Senin, 31 Oktober 2011

Memori yang Tertinggal

Cerita perjalanan ringan hingga akhirnya menyadari ada sebuah memori yang tertinggal.

Ketika waktu mulai beranjak tiga puluh menit dari pukul empat sore, aku mulai bergegas mengikuti Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) di Kaliurang. Tapi sejuknya putaran kipas angin di dalam kamar kos ukuran 3X4 meter membuat aku malas untuk berkemas. Mungkin karena kaca ventilasi kamar yang ada di lantai dua ini telah memberitahuku tentang betapa masih panasnya suhu di luar sana. Namun lambat-lambat kuambil juga sebuah ransel.

          Hanya butuh beberapa menit untuk membuat ransel yang aku miliki sejak zaman SMA itu penuh akan barang bawaan. Tiga potong baju ganti, lalu empat celana-dalam siap pakai berada di susunan paling bawah. Mayoritas berwarna gelap. Laptop merk MSI lengkap dengan chargernya ada di atas tumpukan baju, barang elektronik itu ku atur berdiri agar menempel di punggung ketika dicangklong nanti. Disusul sebuah kamera D-SLR tipe 450D keluaran Canon—aku berharap bisa hunting foto dan mengabadikan kegiatan pelatihan nanti. Agar terlindung dari air hujan, semua barang bawaan aku bungkus dengan satu plastik putih transparan, bekas wadah laundry.

          Selesai mandi dan aku rasa tak ada barang yang tertinggal lagi, mulailah ku langkahkan kaki menuju tangga. Sesampainya di depan kamar Arif—mahasiswa ekonomi semester lima, berambut kribo, kulitnya putih, dan murah senyum—aku lambaikan tangan pada beberapa teman kos yang sedang asik bermain game.
Metu sek yow (keluar dulu ya),” pamitku pada mereka.
Ameh nang ndi rika? Muleh opo, Bob (mau kemana kamu? Pulang ya, Bob)?” teriak Arif dengan logat ngapak khas Cilacap.
Ameh dolan, sek yow (mau main, duluan ya).”
Owh yo, ati-ati Bob (owh iya, ati-ati Bob).”

          Setelah bertele-tele karena terkendala berbagai masalah, akhirnya aku sampai juga di lokasi PJTL berada. Wisma Al-Kindi namanya, berada tepat di depan laboratorium tumbuhan hutan milik Perhutani. Aku parkirkan mesin rakit buatan Jepang yang sering disebut sepeda motor di sebelah kanan wisma.

          Hmm. Jika dilihat, wisma yang terletak di Jalan Boyong ini umurnya sudah tua. Bangunannya belum ada sentuhan modernitas seperti perumahan-perumahan masa kini. Dengan halaman parkir yang tidak terlalu luas, di bagian depan pojok kiri wisma terdapat kolam ikan yang warna airnya sudah menghijau seperti lumut.

          Ketika masuk ke dalam, kulihat ada dua orang yang menurutku asing. Ternyata dialah pemateri PJTL malam ini hingga beberapa hari ke depan. Mas Fahri  Salam. Seorang wartawan independent yang bekerja di Yayasan Pantau. Badannya kurus, dan berperawakan sedikit jangkung. Rambutnya hampir mirip dengan temanku Arif, namun masih sedikit rapi Mas Fahri. Matanya sedikit melotot ketika berbicara. Dari logat bicaranya, aku tak mampu menebak dari mana asalnya. Jawa bukan Sumatera juga bukan? Apalagi Sulawesi, lebih ngaco lagi.

          Malam itu hanya diisi dengan perkenalan, baik dari Mas Fahri ataupun peserta. Setelah itu bebas, terserah peserta mau apa.

          “Ayo ke pocian, yuk,” ajak seorang teman. Tak ragu lagi, dengan anggukan kepala aku menyanggupi ajakannya. Dengan beberapa motor kami menembus dinginnya angin pegunungan, membuat tubuh menggigil jika berlama-lama berada di jalanan, kabut yang membawa tetesan air membuat pakaian kami sedikit basah.

          “Puh, sepi benar malam ini,” batinku dalam hati. Baru semenit berada di warung poci, kabut tipis yang membalut tubuh kami di jalan tadi sudah berubah jadi hujan. Tuntas sudah harapan warga Yogya pada umumnya, awan jenuh yang tak kuat menahan beban akhirnya memuntahkan butiran air yang biasa kita sebut hujan. Semoga di kota Yogya juga demikian, agar debu-debu liar jalanan tersingkirkan. Seperti di Kaliurang ini.

          Intensitas hujan bervariasi. Kadang gerimis, yang hanya menimbulkan suara tik tik tik…. saat menyentuh atap. Kadang bisa segede biji jagung, trang trang trang…bresssssssssss…. Derasnya luar biasa.

          Warung yang dominan dengan ornamen warna merah muda itu juga sepi sekali. Ruangannya berkisar antara 5X9 meter. Hanya ada kami, aku tak ingat berapa banyaknya kami. Ada satu meja di pojok kanan warung yang dikelilingi kursi sofa, duduklah kami di situ.

          Kurang lebih sejam berada di warung yang hanya punya meja tak lebih dari delapan buah itu. Kami putuskan untuk pulang setelah selesai menikmati pesanan yang telah habis kami lahap. Lagi-lagi harus berhadapan dengan angin pegunungan, kali ini sehabis hujan.

          Setelah sampai di wisma. Aku ingat lagi kejadian sore tadi. Ceritanya begini, ketika salah seorang teman membuka file-file foto di laptop aku sempat berpikir, tak lebih dari lima detik aku bisa menyimpulkan ada sesuatu yang tertinggal. Sesuatu itu adalah kartu memori kamera. Payah benar ingatanku. Sebenarnya bisa, tapi tak mungkin juga jika aku harus kembali ke kos hanya untuk mengambil sebuah kartu memori. Aku memang pelupa, justru hal-hal kecil seperti ini yang sering terlupakan. Rencana untuk hunting dan mengabadikan momen harus tertunda, sayang sekali.

          Ugh, kesal sekali rasanya. Memangnya bisa apa kamera digital tanpa kartu memori? Ibarat kata bagaikan macan ompong dan tak berkuku, hanya meraung, jika lelah akan membisu. Hal ini mengingatkan aku pada kinerja di organisasi, tentang semua elemen itu penting. Tak ada satupun yang dianggap pelengkap, semua adalah bagian sekalipun tidak berperan sentral. “Agh, melantur apa aku ini?” batinku sembari berharap cepat sadar dari lamunan.

          Di ruang tamu, ada dua bantal putih yang ditumpuk di atas karpet usang. Tanpa perlu pikir panjang, tak peduli aroma apa yang melekat pada karpet 2X3 meter itu. Aku merebahkan diri untuk sejenak melepas lelah. Semakin lama mata semakin berat, rasanya seperti diganduli besi satu kilo saja. “Hoe, emange bantale nyepakne koe po (Hey, memangnya bantal itu nyediain kamu)?” teriak temanku Yeyen. Dia yang sebenarnya menyiapkan bantal itu untuk tidurnya. Namun aku tak ambil peduli, mata yang tinggal 5 watt ini sudah tak bisa diajak kompromi lagi. Memori yang tertinggal juga sudah tak ku hiraukan lagi.

          Lalu lepas dari terjaga, terlelaplah aku.*

Baca Selengkapnya...

Senin, 24 Oktober 2011

Anak Kuliahan atau Mahasiswa

          Teriknya sinar matahari menghadirkan  pengetahuan dalam sesi formal di siang hari, pengetahuan yang terbatas akan sekat-sekat ruangan dan atap kelas. Realitanya, hanya sebagai rutinitas. Masuk kelas, lalu duduk sembari menanti namanya dipanggil dalam presensi. Sebagian besar berorientasi pada sebuah penilaian formal—izinkan aku untuk menyebut mereka anak kuliahan.

          Sementara di sisi lain, ada yang ingin terbebas dari semua itu. Tak peduli waktu terus berputar dari pagi sampai ke pagi lagi. Hari-harinya dihabiskan di luar kelas, tak ayal ilmu serta pengetahuan yang diperoleh jauh lebih nyata dibanding teori-teori. Tidak berlebihan jika aku menyebutnya mahasiswa—inilah aktivis.

          Perbedaan diantara keduanya sangatlah jelas. Dimana yang pertama hanya memikirkan pendidikan untuk dirinya sendiri, sementara yang kedua secara tidak langsung masih menyisakan harapan bagi kelangsungan hidup orang lain, berkat sebuah rasa kepedulian yang mereka miliki.

          Kata “maha” setelah “siswa” berarti menandakan sesuatu yang lebih. Ketika seorang mahasiswa masih menjalani rutinitas pendidikan layaknya anak sekolah dasar dan menengah, apakah sudah “pantas” mereka disebut mahasiswa? Sebuah pertanyaan yang menyimpan tanda tanya besar.

          Sesuai dengan dua paragraph awal, dapat diasumsikan bahwa mahasiswa adalah bagian dari anak kuliahan, tapi anak kuliahan belum tentu menjadi mahasiswa. Karena pada dasarnya mahasiswa tidak hanya membaca buku untuk diri sendiri, namun mereka juga harus mampu membaca hati dan tangis manusia yang terpinggirkan.

          Paradigma pendidikan di negeri kita memang sudah sedemikian mawut-nya, semua dilihat dari segi keformalan. Parahnya lagi biaya pendidikan yang mahal menyebabkan banyak mahasiswa menjadi pragmatis, yang dikejar hanya indeks prestasi dan cepat lulus, terkadang tak peduli dengan kemampuan yang dimilikinya. Terkait biaya memang tak bisa dipungkiri, sistem telah membuat mahasiswa mempunyai pola pikir seperti itu.

Agen perubahan dan Kontrol Sosial

          Ada sebuah jargon yang selalu hadir saat kampus menyambut mahasiswa baru. Mahasiswa itu harus jadi agen of change and control social. Dua peranan penting tersebut wajib ada dalam sanubari mahasiswa baru, lebih-lebih yang ingin jadi aktivis. Perubahan untuk siapa? Setidak-tidaknya perubahan untuk dirinya sendiri dalam mengambil sudut pandang berpikir—sebagai mahasiswa, bukan anak kuliahan—syukur-syukur perubahan itu bagian dari pencerahan untuk orang lain.

          Mahasiswa harus tahu jika hidup bukanlah sebuah dikotomi, hitam-putih ataupun benar-salah saja. Hidup merupakan perjalanan dinamika, rasa kepedulian yang diawali dari dunia kampus niscaya akan membawa kita menjadi manusia yang dapat memanusiakan manusia.

          Kampus didirikan tidak bertujuan untuk menciptakan robot-robot kapitalis, tapi untuk mereka yang kritis terhadap potensi diri dan gejolak sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Tak usah ragu untuk menjadi seorang aktivis. Aktivis memang rentan kena DO, namun itu hanya berlaku bagi aktivis yang malas dan disorientasi. DO merupakan resiko yang harus ditanggung bukan hanya oleh mahasiswa aktivis, tapi semua mahasiswa bisa mengalaminya.

          Aku lebih memilih mendapat predikat indeks prestasi (IP) rendah dengan skill tinggi daripada sebaliknya. Karena dengan kemampuan, kita dapat membuat berkarya yang nantinya tidak menutup kemungkinan akan mempekerjakan mahasiswa dengan predikat lulus cumlaude.

          Namun, menjadi aktivis juga perlu perhitungan. Tidak sedikit aktivis yang dis-orientasi tehadap apa yang ia lakukan di organisasinya. Sikap selektif untuk memilih organisasi mutlak diperlukan, agar hal-hal yang sekiranya tidak mencerminkan tingkah-laku mahasiswa dapat dihindari. (Boy). [#]
Baca Selengkapnya...