Tampilkan postingan dengan label Estetika Memory. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Estetika Memory. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Mei 2014

Terima Kasih Gondrong

Jika ibumu masih nyuruh aku potong, bilang saja meskipun aku gondrong aku tak pernah nyolong dan sudah insyaf jadi pembohong.

            Rabu dini hari, 30 April 2013. Sudah dua hari ini aku puasa. sedikit bermasalah setelah buka hari pertama, pasti karena terlalu serakah. Setelah menenggak beberapa gelas air putih di kamar kos, aku menuju warung makan langganan. Terong, lele, dan sambel korek bersatu-padu menggoyang lidah. Dua kali aku tambah nasi, di sini nasi ambil sendiri, jadi rugi kalau cuma nyentong sekali.

            Selesai makan aku tak pulang, kampuslah yang jadi tujuan. Dua potong roti bakar tergeletak di atas kertas minyak, roti itu milik teman, tanpa pikir panjang aku telan sepotong. Ternyata satu gigit bikin ketagihan, akhirnya kita beli lagi dengan uang iuran. Tak hanya roti bakar, ada juga dua plastik bakso tusuk. Aku kembali membabi-buta, perut dan mulut saling sikut.

Hanya beberapa menit setelah itu, perut berasa melilit, berujung sakit. Akumulasi dari semua rasa itu meledak menjelang dini hari, beberapa menit sebelum sahur untuk puasa hari kedua. Dua kali aku bolak-balik ke kamar mandi, rasanya tak karuan, untuk duduk saja susah bukan kepalang.

Pengalaman hari pertama membuatku lebih berhati-hati di hari kedua, kini aku mencoba buka secukupnya. Saat ini aku sedang bersiap santap sahur untuk hari ketiga, sembari melihat tayangan Liga Champion Eropa di layar kaca. Dua tim ibukota beda negara sedang berlaga.

Rencananya puasa ini akan kontinyu sampai hari ke tujuh. Setelah itu, aku akan memotong rambut. Sudah hampir lima tahun aku tak pernah ke tukang cukur, panjangnya sudah hampir sepinggul.

*

Niat untuk memanjangkan rambut datang begitu saja, tak pernah dirancang serius. Seingatku, saat itu kuliah baru memasuki semester satu. Rambutku masih pendek seperti umumnya mahasiswa baru. Lalu sampailah pada suatu ketika, seorang dosen pengantar ilmu hukum yang kini sudah profesor, bercerita tentang masa-masa ia menjadi mahasiswa. Mulai dari kegiatan-kegiatan yang ia jalani, dinamika kuliah yang dilalui, sampai tentang penampilan dari ujung rambut sampai sekitar mata kaki. Ia bercerita dengan intonasi yang menggebu-gebu, sembari memberitahukan jika rambutnya pernah panjang sebahu.

Awalnya cerita dosen itu aku anggap angin lalu, tak lebih dari seorang pejuang yang sedang bernostalgia dengan romantisme perjuangan di medan laga. Tapi entah sejak kapan dan karena apa, setahun setelah itu panjang rambutku sudah sebahu. Perlu diketahui, aku sempat dua kali meluruskan rambut. Pertama, ketika panjang rambut kurang-lebih 10cm. Kedua, ya ketika sebahu itu. Pelurusan itu bukan untuk gaya-gayaan, tapi perawatan (kamuflase).

Menjadi gondrong adalah sebuah pilihan. Pilihan mudah namun implementasinya sulit. Penilaian bahkan penghakiman orang lain akan menghukum kegondrongan kita tanpa proses pengadilan.

Ruwet, nakal, dan tidak mapan. Tiga kata yang cukup mewakili gambaran lelaki gondrong, meski masih banyak konotasi negatif lainnya. Gondrong memang membuat setiap lelaki terlihat sangar, tak terkecuali diriku waktu itu. Tapi percayalah, tampilan fisik hanya 20% mewakili isi jiwa seseorang. Banyak manusia hidup dengan topeng kepalsuan.

Lead yang membuka tulisan ini (bergaris miring setelah judul) tidak datang dari ruang kosong. Kalimat yang sudah pernah aku tulis di media sosial Twitter itu ibarat eksepsi (jawaban tergugat atau terdakwa atas gugatan atau dakwaan Jaksa). Pernah ada seorang perempuan, selalu membujuk untuk mengakhiri kegondronganku, ia pernah bilang bahwa ibunya juga berpesan demikian. Namun sampai kita tak dekat lagi, saling menjauh atau salah satu menjauh—bisa jadi karena aku tak mau potong rambut atau mungkin ada yang lebih rapi dan mapan—aku tak tahu. Sampai kita tak bersama-sama lagi, niat untuk potong rambut belum juga tumbuh dari jiwaku.

Bagiku, jika suatu saat nanti aku harus potong rambut. Niat itu harus berangkat dari hati yang tulus dan tanpa paksaan dari pihak manapun. Dan terbukti di awal bulan empat tahun ini. Setelah berdiskusi dengan bapak, akhirnya ada beberapa hal yang harus aku persiapkan untuk berpisah dengan mahkota yang lima tahun menjadi sahabat bagi tulang belakang.

*

            Sabtu dini hari, 24 Mei 2014. Sudah dua puluh empat hari tulisan ini tanpa proggres, kesibukan dan rasa malas menjadi penyebab utama. Jemari, pikiran, dan niat memudar. Padahal, delapan belas hari yang lalu aku telah memotong rambut, tepatnya pada Seloso Kliwon kemarin: 6 Mei 2014.

            Sore itu, menjelang asyar. Aku diantar delapan teman menuju Adam Barber, Jalan Kaliurang. Aku terakhir potong lima tahun yang lalu, bulan puasa 2009, tanggalnya lupa, yang jelas sehari setelah kelahiran Aira, cucu dari pakdhe Wijo—kakak ipar bapakku. Awalnya kami sempat bingung untuk menentukan tempat pangkas mana yang akan menjadi tempat bersejarah.  Niatnya aku ingin memotong rambut di tukang cukur bawah pohon, tapi setelah observasi kesana-kemari, hasilnya nihil. Adam Barber di Jalan Kaliurang ini tak begitu besar, dan hanya ada dua kapster didalamnya.

            “Mau ngapain, mas?” tanya salah satu kapster sembari melempar senyum. Senyuman dan kernyitan dahinya menyiratkan bahwa ia sedang bertanya-tanya penasaran. Aku sampaikan niatku, tapi ia malah terheran-heran dan tak percaya. Lalu ku ulangi sampai tiga kali maksud kedatanganku sore itu. Dengan senyum lebar tanda puas dengan jawaban, akhirnya ia mempersilahkan aku duduk di kursi empuk menghadap kaca besar. Nama kapster itu Erik, masih muda, jika ku taksir umur kita tak jauh beda, tapi lebih tua dia.

            Proses potong rambut sangat singkat. Pertama rambut aku ikat satu di belakang kepala, biasa orang menyebutnya ikat kuncir-kuda. Erik menutupi tubuhku dengan kain biru, agar potongan rambut tak mengotori pakaian. Ada seorang teman, namanya Sadhan, dari dulu pengen banget jadi jagal untuk rambutku, alasannya gemes dan gregetan. Setelah Erik memberi Sadhan gunting, akhirnya rambut yang sudah aku rawat selama lima tahun, hilang tak lebih dari lima menit. Lalu Erik mulai merapikan bagian-bagian tertentu, dan dalam sekejap wajahku berubah menjadi lima tahun lebih muda.

            Banyak pertanyaan muncul setelah aku potong rambut. Kebanyakan tentang alasan, penyesalan, dan bahkan keberadaan rambutku yang dulu. Awalnya aku semangat menjawab pertanyaan seperti itu, meski akhirnya bosan menjelaskan sesuatu secara berulang-ulang.

            Puasa tujuh hari sebelum potong rambut membuat aku lebih menerima keadaan yang sekarang, tanpa penyesalan. Selain mangklingi (membuat orang lain tidak mengenali karena perbedaan sebelum dan sesudah potong cukup signifikan), suasana secara keseluruhan juga ikut berganti. Seperti hidup, ia harus dinamis bukan stagnan pada suatu titik nyaman.

            Dahulu di zaman pasca Majapahit, ketika Islam mulai masuk ke Nusantara dan berkembang di daerah pesisir utara Jawa. Buku Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer menggambarkan betapa pada masa itu lelaki gondrong sudah tak sebanyak masa Hindu-Buddha. Buku bertebal 760 halaman itu bercerita tentang hancurnya kedigdayaan kerajaan Tuban dan perjalanan hidup Wiranggaleng, pemuda desa yang diangkat menjadi senopati Tuban dan beristrikan Idayu, penari pujaan Tuban.

Pada suatu ketika Wiranggaleng mendapat tugas untuk menerjemahkan isi surat berbahasa Arab. Sampailah ia di Gresik. Keberadaannya menjadi pusat perhatian karena rambutnya panjang. Setelah berpikir tiga hari, ia berpuasa mohon ampun dari para dewa dan leluhur, lalu dimintanya seseorang untuk mencukur rambutnya. Ternyata tak mudah, tak ada seorang pun yang mau menjadi tukang cukur, karena pada saat itu tempat pangkas rambut yang sah dan meyakinkan adalah pesantren, sementara ia masih Hindu.

Ketika itu masyarakat Gresik mempunyai kepercayaan jika memotong rambut bukan oleh orang dan tempat yang sudah ditentukan, leluhur akan gusar, akibatnya yang memangkas dan yang dipangkas bisa kena kutukan.

Seorang kenalan di pelabuhan menemaninya menghadap kiai di sebuah pesantren. Semestinya sebagai seorang yang berambut panjang, ia datang bersama sanak-keluarga untuk ikut menyatakan kerelaan akan pemotongan rambut itu. Jika keluarga menolak, bisa membawa teman-temannya sebagai saksi. Syarat lainnya: seekor ayam jantan putih, beras tujuh tempurung, dan tiga depa bahan pakaian putih. Tapi Wiranggaleng bebas dari syarat-syarat itu, sang kiai tahu ia berasal jauh dari luar Gresik.

Rambut Wiranggaleng dipotong dan pada saat itu pula ia diharuskan meniru syahadad dari sang kiai. Tak butuh waktu lama, karena memang ala kadarnya. Setelah selesai, ia punguti rambut dan disimpannya dalam sarung. Ia akan menanamnya setelah membuat upacara yang patut. “Kau sudah sepenuhnya Islam, pergunakanlah sekarang nama Islam, Salasa. Bisa menghafalnya? Salasa, karena kau datang kemari di hari ketiga,” pesan sang kiai. Di masa itu memotong rambut adalah simbol bagi seseorang yang berniat masuk Islam.

Sejak membaca buku itu, aku sudah berniat jika potong rambut nanti, setidak-tidaknya harus ada penghormatan bagi mahkota yang sudah lima tahun menghiasi kepala. Dan selain puasa tujuh hari, aku juga puasa tak makan nasi dan garam tiga hari, lalu menutupnya dengan syukuran nasi tumpeng sederhana bersama teman-teman Lembaga Pers Mahasiswa Keadilan (LPM Keadilan) Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, dua hari setelah hari pemangkasan. Kebetulan juga pada waktu itu tepat di hari ulang tahun LPM Keadilan, jadi ada dua tumpeng yang kita santap bersama.

Rangkain foto sebelum dan sesudah potong rambut di Adam Barber, Jalan Kaliurang. Setidaknya ada delapan kawan yang ikut menemaniku sore itu, mereka mengabadikan momen melalui foto dan video. Aku haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada kalian: Dimas, Alam, Jefri, Ucup, Meila, Mail, Rini, Sadhan.
Dan tulisan ini merupakan penghormatan utamaku. Mungkin tak sesakral yang dilakukan Wiranggaleng, membuat upacara sebelum menanamnya rambutnya. Tapi tulisan ini Akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari, takkan padam ditelan angin.

Terima kasih gondrong, kau berikan kenangan di masa kuliah yang mengasikkan. Kau menjadikan aku contoh buruk agar tak ditiru oleh orang lain. Rambut gondrong, celana sobek-sobek, kaos oblong, dan sendal jepit akan membuat semua ibu-ibu mewanti-wanti anak kecilnya untuk tidak menirukan gayaku jika mereka besar nanti. Bagiku, jika kita tak bisa menjadi contoh baik, jadilah contoh yang buruk, tapi hatimu jangan.

Kini biarkan aku menikmati suasana baru, kelak jika aku rindu, izinkanlah aku kembali padamu: gondrong. Sembah hormatku padamu, dari seseorang yang menemukan dirinya sendiri bersamamu. Terima kasih, restui aku untuk tetap bertahan menjadi diri sendiri. Tabik.
Baca Selengkapnya...

Selasa, 29 April 2014

Buku

Bisu dan tuli, tapi banyak arti

Sudah seminggu lebih buku ini ada di tangan, pinjaman dari seorang pemuda Banten yang berhasil memprovokasiku malam itu. Ia memang gemar bercerita tentang apa yang baru ia baca, sebuah hobi yang bermanfaat untuk teman dungu sepertiku. Meski harus diakui wawasan kita terbatas, lebih-lebih setelah aku membaca buku pinjaman darinya sekarang. Selama ini aku merasa seperti terlalu menikmati lucunya warna-warni ikan dan terumbu karang indah di dasar laut, tanpa pernah ingin tahu dunia apa yang ada di permukaan air.

Terima kasih kawan, kegemaranmu mencerahkan. Ya, setidaknya nongkrong sampai pagi tak hanya sebatas forum haha-hihi. Selalu ada sesuatu yang bisa dikupas secara mendalam, sesederhana apapun objeknya.

Buku dengan sampul warna putih, dan bergambar mawar yang terinjak jejak sepatu tentara itu menceritakan perjalanan seorang aktivis. Dari mulai masa kanak-kanak, hingga menjadi pemberontak, sampai kini menjadi bagian dari partai oposisi. Bukan tentang siapa dia saat ini yang membuatku kagum, tapi tentang cita-cita dan perjuangan yang ia lakukan untuk cita-cita tersebut.

“Momentum saat seorang bertemu buku itu adalah saat dirinya sedang ditinggikan melebihi ukuran badannya,” bunyi salah satu kalimat yang menginspirasi dalam buku itu. Ada beberapa perumpamaan lagi selain ditinggikan melebihi ukuran badan, meski substansinya sama: momentum bertemunya manusia dengan buku.

Sayang, selesai membaca saja belum, lebih-lebih mengembalikan. Maafkan aku, kawan. Anak-Anak Revolusi itu aku pinjam terlalu lama, akan ku kembalikan secepatnya setelah tamat.

Aku sendiri bertemu dengan buku lalu akrab dengannya baru ketika menginjak semester satu, tepatnya lima tahun yang lalu. Awalnya aku meminjam dari kakak tingkat, sebuah tertralogi: empat buku. Aku berniat meminta keempat buku sekaligus, tapi ia melarang. “Satu dulu dirampungin, baru baca yang lain,” ujarnya jengkel.

Tampaknya larangan itu ada benarnya, untuk melahap satu buku saja aku butuh waktu lebih dari sebulan, dasar tak pernah membaca buku! Aku memang bukan kutu buku, dan itu pertama kalinya dalam hidup, aku baca buku dengan tebal lima ratus halaman. Masa kanak-kanak sampai habis remajaku tak pernah dekat dengan buku, mungkin karena orang tua tak pernah mengenalkannya padaku.

Bapak dan ibuku juga jauh dari buku, mereka hanya lulusan SMP yang gigih memperbaiki taraf hidup masa depan mereka: aku dan adikku. Justru tahun lalu akulah yang memperkenalkan buku dengan mereka, juga untuk adikku. Bagi bapak dan ibu, tiada hari tanpa bekerja, meski tanggal merah sekalipun. Semua dilakoni agar aku dan adikku melebihi pendidikan mereka. “Meski bapak ibumu hanya lulusan SMP, tapi kami bertekad untuk mengantarkanmu, juga adikmu sampai ke perguruan tinggi,” janji bapak dulu.

Tekad yang luar biasa, bahkan salah satu putranya sudah menyandang gelar sarjana dengan predikat cumlaude. Predikat yang ku yakini bapak dan ibu tak paham, sebelum akhirnya aku jelaskan. Aku pun sadar bahwa tak ada yang perlu dibanggakan dari predikat itu, karena bagiku: untuk apa cumlaude jika otak kita tetap saja kolot? Seperti yang tertulis di atas meja tivi kamar koskuc sejak setahun lalu. Posisinya persis di dinding ujung kasur, harapannya agar selalu terbaca saat hendak terpejam sekaligus ketika nanti aku membuka mata.

Buku memang jendela dunia. Pernah suatu ketika, aku berjumpa dengan seorang teman lama dalam acara buka bersama. Ia teman SMP, lalu melanjutkan sekolah di pondok pesantren ternama di kota Solo, lantas aku tanyakan padanya tentang apakah ustad-ustad ini (ada dua nama ustad besar) masih mengajar di sana? Sambil aku sisipi pertanyaan tentang misi dua ustad itu selain mendakwah? Ia kaget bukan kepalang, seketika itu pula ia tanya balik, apa aku jadi santri juga di sana? Setidaknya jadi santri di kawasan kota Solo?

Jelas tidak mungkin, nyata-nyata aku tak pernah sekolah atau kuliah di sana. Aku tahu nama dua ustad itu dari buku: Temanku Teroris? Karya Noor Huda Ismail. Novel non-fiksi tentang perjalanan hidup penulis dengan teman-temannya saat dan setelah menjadi santri di salah satu pondok pesantren di Solo bagian selatan. Hingga akhirnya Noor Huda mengetahui salah satu terdakwa bom Bali adalah temannya kala menjadi santri. Mereka dipertemukan lagi setelah lama berpisah, tapi dengan atmosfer yang beda. Huda menjadi jurnalis, sementara temannya divonis mati.

Sejak peristiwa tiga tahun lalu tersebut, aku benar-benar merasakan ternyata buku bisa mengantarkan kita satu tingkat lebih awal dari kenyataan, luar biasa. Aku ingin menularkan kegemaran baru ini pada bapak, ibu, adik, pun juga untuk bekas teman dekat. Keluargaku tertarik, bahkan bapak dan adikku mulai kecanduan membaca. Tapi sayang, sepertinya bekas teman dekatku tak bernasib sama, ia tak suka. Mungkin sampai sekarang buku yang aku beri belum ditamatkannya, maaf ya hadiah ulang tahunmu kala itu terlalu biasa, beda dengan lainnya. Mungkin aku terlalu memaksamu untuk suka membaca sastra.

Jangan besar kepala ya, karena aku ingin memperkenalkan sastra bukan hanya padamu saja, namun pada semua manusia, mengingat Pramoedya Ananta Toer pernah bilang bahwa kita boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kita tinggal hanya hewan yang pandai. Anis Baswedan pun pernah menulis di twitter pada 3 Juli 2013: Baca buku teks itu harus, baca buku bidang studi-nya itu baik dan perlu, tapi baca karya sastra itu baru mantap.#bacaan kuliah. Sekian.
Baca Selengkapnya...

Kamis, 26 Desember 2013

Tungku

“Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa, pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
(Soe Hok Gie - Sebuah Tanya, 1969)”

Salam Persma!

Petikan bait pertama puisi Sebuah Tanya di atas tergolong dalam majas alusio, artinya ungkapan yang dapat diketahui secara mudah, bahkan untuk orang awam sekalipun. Dan kalimat tersebut sekaligus menjadi legitimasi untuk pelantikan kepengurusan baru di sore ini—sore gerimis tapi romantis, yang suatu saat nanti akan terjadi lagi, lagi, dan lagi.

Senin dini hari, delapan hari yang lalu, setelah melalui mekanisme pemilihan, pimpinan sidang musyawarah anggota melalui surat keputusan No. 13/TUS/MA/LPM FH UII/XII/2013 menetapkan seorang mandataris baru LPM KEADILAN periode 2013-2014. Seminggu kemudian, melalui rapat formatur, terbentuklah Struktur Kepengurusan LPM KEADILAN FH UII Periode 2013-2014 seperti yang telah dibacakan tadi.

Banyak sekali dinamika yang terjadi dalam periode 2012-2013 yang lalu. Awalnya kita bagaikan sayur segar yang siap dipetik, berwarna-warni—merah, putih, hijau, bahkan abu-abu—lalu bertemu di sebuah tungku yang tidak terlalu besar bernama KEADILAN. Di tungku tersebut kita larut dalam air kekeluargaan yang memang benar-benar mencairkan. Ketika nyala api dialektika di bawah tungku semakin besar, intrik dan konflik menjadi bumbu penyedap agar sayur ini matangnya tak berasa hambar. Dan semua ini akan terulang, dengan bahan baku dan bumbu penyedap yang berasal dari tempat yang berbeda, tapi tidak dengan kualinya.

Terima kasih atas kepercayaan dan kerjasamanya selama 15 yang lalu, mari kita songsong kepengurusan baru dengan jiwa yang sehat tanpa dibuat-buat, kuat tanpa harus berkarat, serta solid tanpa musti berkelit-kelit. Terima kasih juga untuk KEADILAN yang telah mengajari kami tentang profesionalisme, pergerakan, juga arti kekeluargaan. Satu pelajaran penting yang akan kami bawa sampai kapan pun juga, yakni tentang beraneka ragamnya sayur di kebun akan terasa lebih nikmat ketika dimasak matang dengan bumbu yang pas, api cukup, dan tungku yang proporsional.

Jika esok harus lebih baik dari sekarang: rawatlah kebun sayur, perhatikan komposisi bumbu dan pertahankan nyala api, agar tungku KEADILAN tetap menghasilkan sumber daya manusia dan produk-produk sesuai dengan yang kita cita-citakan. Kini sepenuhnya KEADILAN telah berada di pundak kawan-kawan, tak akan ada yang mati di sini, mungkin hanya sedikit menepi. Seperti bait terakhir puisi Sebuah Tanya milik Gie:

Manisku, aku akan berjalan terus
Membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
Bersama hidup yang begitu biru

Idealisme bukan hanya sekedar perkataan dan tulisan di pakaian, tapi juga tindakan dan kelakuan. Percuma saja jika mulut gagah tapi komitmen payah. Memelihara kemalasan, ujung-ujungnya cari alasan. Lihat Rumah Kaca halaman 409 milik Pram, kurang lebih begini bunyinya: Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya. Kawan, baca tetralogi sekali lagi!
Baca Selengkapnya...

Kamis, 19 Desember 2013

Cerita

Sekarang adalah waktu dimana aku sudah berada di ujung masa kuliah. Melahirkan gelisah, takut menentukan arah, meski pasrah hanya akan berujung kalah.

SELASA DINI hari tanggal ketiga bulan Desember. Rembulan sembunyi di balik mendung, burung peliharaan menekuk kepala dalam kandang. Sejam yang lalu ayam tetangga berkokok berkali-kali. Kini suara jangkrik mulai berisik, meski muadzin sedang mengumandangkan adzan Subuh semerdu mungkin.

Aku masih terjaga, sepertinya mata ingin melihat fajar yang sebentar lagi tiba. Kantuk yang sedari tengah malam tadi terasa, kini sudah lenyap. Pikiran yang mustinya diistirahatkan, dikecualikan untuk mengusir kegundahan. Sebuah aplikasi di komputer lipat menjadi sarana untuk bercerita, Cerita ini mudah dimengerti oleh orang yang mudah paham, namun bukan konsumsi untuk kalian yang tak pernah mau tahu apa yang sedang orang lain lakukan. Mungkin begini awalnya:

Setelah pindahnya tali toga di kepala, satu per satu dari mereka mulai angkat kaki, namun entah mengapa aku merasa masih harus tetap berdiri di posisi ini. Lalu komentar selalu datang bertubi, dari kanan juga kiri, dan hampir semua tak paham dengan penjelasan yang memang sulit dimengerti.

Ini bukan tentang gengsi atau eksistensi, tapi terlalu berlebihan jika dikatakan tentang isi hati, takutnya dibilang sok suci atau sok punya komitmen tinggi. Meski pada nyatanya, hidup hanyalah mampir sok-sok’an semata. Kita pun tinggal pilih mau jadi sok apa, karena tulus yang katanya berasal dari hati itu juga sulit diukur, terlebih ketika semua bisa dibungkus dengan kepalsuan.

Kurang dari dua minggu lagi, semua akan berakhir. Bukan lepas, hanya sedikit berubah. Baru dua bulan setelah bulan kedua tahun depan semua akan benar-benar hilang, lalu jadi kenangan. Ya, sulit dimengerti bukan? Baiknya anda sudahi saja membaca cerita ini.

Hari pertama Desember kemarin membuatku merasa terharu, ada kejadian dimana aku merasa bangga menjadi bagian dari kalian, dan begitu takut untuk kehilangan. Mungkin ini berlebihan, tapi jujur itu yang benar-benar aku rasakan. Walaupun aku tahu ini tak lebih dari sekedar melankolia, dramatisasi, dan konsekuensi dari berpikir dengan perasaan.

Aku pernah merasa tersesat di sini, sampai akhirnya aku menyadari bahwa aku sedang tersesat di jalan yang benar dan masuk akal. Semua berjalan begitu saja, cepat sekali, dan lagi-lagi sulit dimengerti. Inilah cerita yang tak bisa bercerita selama empat setengah tahun ini, dan harus ku akhiri di sini karena tak semua layak untuk diceritakan, juga aku tak mumpuni untuk menceritakan.

Terima kasih untuk kepercayaan selama ini, aku berhutang untuk semua. Maaf bila aku tak bisa menjadi lilin ketika gelap, karena aku percaya kegelapan akan melahirkan matahari: selalu memberi tak harap kembali.

Langit mulai memerah, kokok ayam bersahutan di pekarangan. Suara air yang beradu dengan gayung dan badan manusia sudah terdengar di sana-sini. Selamat beraktivitas. (*)
Baca Selengkapnya...

Sabtu, 05 Januari 2013

Ombak Pantai Selatan Titip Salam

Kemarin itu akhir bulan, akhir tahun, dan akhir kisah cinta kita berdua.

Sore itu langit nampak murung, seakan-akan ingin memperlihatkan rasa sedihnya ketika harus meninggalkan 2012. Dari kawasan Jalan Taman Siswa 158, aku beserta teman-teman Keadilan bergegas ke selatan, menuju pantai Ngobaran, kami harus cepat sebelum hujan mengguyur sepanjang perjalanan. Keberangkatan dibagi jadi 2 rombongan, kami kloter kedua.

Kloter kami sampai di Ngobaran ketika maghrib mulai menjelang. Begitu menginjakkan kaki di bibir pantai, aku melihat sudah banyak tenda yang berdiri meski tak semua megah. Ku lanjutkan langkah kakiku menuju lima tenda yang berdampingan, di sana teman-teman kloter pertama berada.

*

Selepas Isya’, kami mulai memanggang sesuatu yang bisa dimakan. Setelah semua beres, waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Santap saji terasa istimewa sekali, walau hanya ada sambel, sedikit kuah dan secuil lauk-pauk. Lebih-lebih dengan adanya lima biji pete bakar, untuk hidangan yang satu ini, hanya aku dan tiga temanku yang doyan. Lainnya memang sengaja tak doyan atau cuma gengsi, aku tak tahu dan itu bukan urusanku. Tak ada yang berpiring dan makan di tempat seadanya itu sudah biasa. Bahkan ada yang berdiri karena tak kebagian tempat untuk duduk.

*

Gerimis tipis mulai turun, padahal waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam, artinya tiga jam menjelang tahun baru. Terpaksa kita harus menunggu hujan reda, tak enak sekali rasanya. Saat-saat seperti ini justru digunakan teman-teman untuk bermain kartu atau hanya saling melempar canda di gubug kecil belakang tenda, karena memang bahagia itu harus dibuat, bukan dicari.

Sedang aku lebih memilih berdiam diri di tenda yang paling dekat dengan air laut. Bukan, bukan untuk menggalau sendu. Selain mengawasi ancaman pasang air laut yang hampir menyentuh tenda itu, aku juga cuma sekedar merenungi dan meratapi apa yang setahun lalu terjadi. Semacam meracik resolusi untuk tahun depan, walau aku tak seratus persen paham tentang apa itu resolusi.

Beberapa saat kemudian, datang lalu duduk di sampingku seorang sahabat Keadilan, dia yang sepertinya sedang manggalau sendu. Wajar saja, mantan terindahnya akan naik pelaminan, tapi bukan dengan dirinya. Owh, aku bisa merasakan nyeseknya perasaan temanku itu. Terdengar dia melantunkan sebuah puisi, aku yakin itu buatannya sendiri. “Tenang, kawan. Jalanmu masih panjang, doakan yang terbaik untuknya,” ungkapku dalam hati.

Temanku pergi, kini aku sendiri lagi. “Debung…,” suara ombak menghantam karam pinggir pantai. Membuyarkan lamunan yang sedari tadi pergi kesana-kemari. Kadang melambung tinggi menyentuh mendung, tak jarang juga menyelam menuju dasar laut Selatan. Sejauh apapun itu, ternyata lamunanku masih itu-itu saja, aku sulit lupakan, bahkan tak bisa.

Tuhan, sudahi siksa ini. Aku tahu dia bukan tercipta untukku, begitu juga sebaliknya. Hilangkan rasa itu, ganti dengan rasa lainnya. Agh, disaat-saat seperti ini masih saja aku meracau dalam kegundahan yang tak sewajarnya aku pikirkan. Maaf, maaf beribu-ribu maaf untuk ketidakjelasan ini.

*

Seorang teman lain menghampiri tenda. “Jam berapa sekarang? Ayo siap-siap buat api unggun,” ajaknya dengan semangat. Jam di hp-ku menunjukkan pukul sebelas malam, benar juga ajakannya, kita memang harus siap-siap. Tapi bukankah di luar masih gerimis, bahkan terkadang lebih dari gerimis: hujan.

Di samping hujan, minyak tanah yang tersisa sudah tak banyak lagi, selain memang bawanya sedikit, juga banyak terkuras untuk membuat panggangan lauk sore tadi. Kami belum lihai membuat api unggun tanpa minyak tanah. Aku sempat panik, jangan-jangan takkan ada api unggun di malam pergantian tahun nanti? Walaupun itu bukan esensi.

Entah bagaimana caranya, aku juga sedikit lupa. Pokoknya tak ada yang berdiam diri diantara kami, beberapa teman lelaki berupaya menyalakan api, lelaki lainnya dan semua perempuan sepertinya sedang berdoa agar api bisa menyala. Dan benar saja, sedikit demi sedikit akhirnya api berkobar dengan gagahnya.

Ia tetap berkobar meski hujan mencoba memadamkannya. Semua karena usaha teman-teman untuk berusaha menyalakannya, terlebih komitmen untuk tetap menjaga nyalanya dalam hujan. Hanya ada satu kata: kalian luar biasa! Aku salut dengan usaha kalian, wahai teman-teman. Hujan tak menyurutkan sedikit pun semangat kita untuk tetap mengobarkan api.

Dari lubuk hatiku yang paling dalam aku berharap komitmen kita dalam menjalankan roda organisasi sama seperti komitmen kita dalam menyalakan api unggun ini. Apapun yang terjadi nantinya, semangat kalian harus tetap berkobar seperti api.

Besar atau kecil, kobaran api unggun dalam rintikan hujan telah memberi pelajaran berharga dimalam tahun baru ini. Halangan dan rintangan pasti akan datang, tapi bukan untuk dihindari, namun kita hadapi.

Kita harus berterimakasih pada Tuhan, karena telah menciptakan alam yang memberi kita sejuta makna dan pelajaran. Kita juga harus sadar, bahwa kita ini kecil. Selama ini kita telah jumawa dengan apa yang kita miliki, apa yang kita kuasai, apa yang kita taklukan. Tapi kuasa apa kita terhadap alam, terhadap hujan? Terhadap tetesan air yang kecil? Kita tak mampu menghentikannya, kawan.

Seperti yang pernah aku baca di Misteri Soliter karangan Jostein Garder, bahwa jika dunia ini adalah sebuah tipuan sulap, maka harus ada seorang tukang sulap agung di balik itu semua. Siapa pesulap agungnya? Setiap orang pasti punya jawaban berbeda. Tak perlu seragam untuk sebuah kepercayaan.

Setelah api berkobar besar, kami semua melingkar, ada beberapa teman yang beresolusi untuk masa depan, paling tidak untuk setahun mendatang. Setelahnya kami semua mendongak ke atas, merenungi ada apa di balik hitam Sang Angkasa. Lalu kami mulai berhitung mundur bersama-sama, kembang api mengudara ketika hitungan sampai pada angkat satu. Walau hanya sedikit, angkasa kini berwarna-warni. Walau hanya sekejap, langit kini gemerlap.

Ada sedikit kekecewaan yang aku rasakan, seorang teman yang sedari awal paling berjasa terhadap jalannya acara ini, justru harus terbaring di dalam tenda karena sakit kepala yang dideranya. Terpaksa, ia tak melewati momen renungan bersama yang lainnya.

*

Menjelang dini hari, aku duduk menghadap laut berteman segelas kopi susu instan yang panas. Hujan dan ombak berbaur meski beda unsur, tepat seperti bersatunya rasa lelah dan kantuk yang tak dibarengi dengan terpejamnya mata. Aku ingat saat itu angin berbisik lirih padaku, selirih teriakan cintaku dulu yang bertaut jarak dan waktu.

“Ombak titip salam buat seseorang yang sampai saat ini masih ada di hatimu. Walaupun sekarang bukan hanya jauh  di mata, namun juga jauh di hati,” bisiknya lembut.

Aku tertegun, tak tahu harus menjawab seperti apa.

“Terima kasih angin, salammu akan ku sampaikan jika aku mampu,” jawabku tak kalah lirih.

Aku rasai tubuh ini butuh istirahat, merebahkan tubuh dalam tenda tak ada salahnya. Entah saat itu waktu menunjukkan pukul berapa, yang jelas aku rindu padanya.

Setelah bangun tidur nanti dan ku akhiri tulisan ini, ada satu kalimat yang ingin kusampaikan padamu:“Hey kamu, iya kamu yang ada di pesisir pantai utara Jawa. Semalam angin berbisik padaku, dia bilang ombak pantai selatan titip salam buat kamu.”  Namun entah hanya dalam mimpi atau langsung aku juga tak tahu, sekarang yang penting aku tahu apa yang harus ku tuju. (*)
Baca Selengkapnya...

Kamis, 06 Desember 2012

Kopi-Susu Instan

Habis tak selalu berujung manis, kopi-susu instan yang mengajariku

Senja mulai menua kalau aku sruput kopi-susu instan tanpa gula. Manisnya pas, karena cangkir kecil ini diisi air sesuai takaran. Setelah cicipan pertama, aku mulai berpikir pelan mengikuti rintihan hujan akhir tahun yang terlihat dari jendela kamar.

Tak salah kiranya jika aku mengandaikan hidup bagaikan kopi-susu instan, tanpa pemanis buatan pun, ia akan manis ketika takaran airnya tepat. Seperti harapan yang harus sesuai dengan kemampuan. Nampaknya manis tak perlu dibuat-buat, manis bisa terjadi begitu saja dan apa adanya. Terdapat pelajaran penting dari kopi-susu instan sore ini, yakni, perpaduan yang tepat akan membuat semua menjadi hebat dan nikmat.

Semenjak sudah tak ada lagi yang melarangku untuk menikmati wanginya seduhan kopi, aku justru merasa ada sesuatu yang hilang kala bibirku bercumbu dengan cangkir. Dulu ku pikir kopiku akan lebih nikmat tanpa omelannya, tapi kini ku sadari jika pikiranku terlalu sempit kala itu. Sekarang justru aku menanti larangan itu, selalu menunggu celotehan yang nyata-nyata kurindu.

Kopi-susu instanku tinggal setengah ketika suara guntur menggelegar sebagai tanda hujan masih menjadi raja di luar sana, seperti auman singa yang kelaparan. Gemericik air memenuhi indera pendengaran, mengalahkan lantunan lagu yang sedang diputar oleh seorang penyiar radio ternama kota Yogya.

Jejaring sosial sudah penuh dengan tulisan tentang hujan, tapi tak ada satu pun yang menulis mengenai kopi-susu instan.

Menikmati kopi-susu instan saat hujan memang nikmat, namun tak ada yang lebih bahagia selain duduk berdua menikmati  isi cangkir kecil ini bersamamu yang kini jauh di sana. Agh, bukannya kamu tak suka kopi? Maaf aku lupa, baiknya memang aku nikmati sendiri kopi-susu instan ini bersama hujan yang sudah tak buas lagi.

Langit petang tetap gelap meskipun hujan mulai reda, bagaikan konser musik metal, semua serba hitam. Ternyata kopi-susu instan di cangkir tinggal satu cegukan, tanpa ampas. Aku terkejut ketika tiba-tiba seorang kawan datang dengan baju basah, nafasnya terengah-engah.

          “Bagi kopinya donk, sob.”

Cangkir yang sudah berada di genggaman tangan dan siap minum aku relakan, join kopi katanya. Kopi-susu instanku telah habis, ada rasa bersalah ketika aku tak bisa berbagi terlalu banyak dengannya. Tapi kilat putih menyadarkanku, bak foto-model baru yang silau karena belum terbiasa kena blitz kamera. Bagiku sedikit berbagi lebih baik daripada banyak namun untuk sendiri, semua hanya akan sia-sia, dan kakekat hidup bakal tereduksi karenanya.

Kopi dalam cangkir sudah habis, meski apa yang kita lakukan selama ini tak berujung manis. Tapi tak apa, manis pun jika dipaksakan hanya akan jadi manis buatan, dan itu lebih menyakitkan dari pahit yang alami, pahit yang benar-benar pahit sekalipun.

Esok ku seduh lagi, esok ku nikmati lagi, esok kan ku cumbui lagi dengan cangkir-cangkir mini. Tanpa larangan, meskipun aku merasa kehilangan. (*)

Baca Selengkapnya...

Jumat, 23 November 2012

Tentang Hujan

Hujan bisa memberi kenangan manis pada manusia, namun tak sedikit juga yang harus menanggung kegetiran karenanya.

Kebanyakan manusia akan menjadi pujangga ketika perlahan-lahan hujan turun menyetubuhi bumi. Karya mereka beragam, mulai dari pantun, puisi sampai lagu yang sendu. Hasilnya juga bermacam-macam. Ada yang polos, menarik, bahkan juga menggelitik. Semuanya berkat hujan, semuanya berawal dari hujan.

Bayangkan sejenak, apakah kemarau dan panas yang merupakan perbandingan dari hujan bisa menimbulkan akibat yang sama seperti hujan? Sepertinya perlu telaah dalam untuk berkata iya. Aku sering berpikir tentang keunikan hujan yang satu ini, kehadirannya memang sangat dinantikan.

Prosesnya memang memilukan. Langit akan menjadi gelap karena mendung, setelah itu terlihat seperti menangis mengeluarkan air mata, jika terlalu banyak  pun bisa mendatangkan bahaya. Aku yakin karena sebab-akibat di atas, hujan selalu dianggap murung dan penuh kegelisahan. Padahal hujan penuh dengan cerita, dan di saat-saat itulah manusia akan benar-benar merasakan kehangatan sebuah pelukan. Mengharukan bukan? Bagiku sangat.

Sebelumnya aku selalu suka saat hujan tiba, karena anganku akan teringat diwaktu-waktu itu. Dimana ada tawa bersama, menikmati dentingan air hujan yang menyentuh atap tempat kita berteduh, sembari bertukar pandang sesering mungkin. Jika mulai mereda, kita nekat menerjang tanpa mantel, basah sedikit tak jadi soal, tapi itulah yang takkan terlupakan. Namun kini beda, dan sangat berbeda.

Kenangan itu justru membuatku semakin gundah, inginku berusaha melupakan. Namun entah kenapa aku selalu tak bisa, selalu kandas usahaku untuk menepis kegetiran yang aku rasakan kala hujan mulai datang. Tapi usaha ini akan terus aku lakukan sampai aku benar-benar terbebas dari memori yang tertinggal.

Agh, tampaknya aku terlalu terbuai oleh hujan. Maaf, maksudku bukan demikian. Kini saatnya untuk bergegas menjadi manusia yang hilang ingatan, asalkan tak sedikit pun kehilangan arah, komitmen, dan tujuan, juga hati nurani serta rendah hati dalam kesederhanaan.

Hujan akan tetap abadi, siklusnya saja yang mungkin akan mengalami fluktuasi. Tak jadi masalah ketika apa yang selama ini kita jalani tak bernasib sama dengan sifat hujan yang abadi.

Inilah hujan, biarkan ia tetap murung sampai reda. Tak perlu pelangi yang indahnya hanya sekejap di mata, hujan akan tetap menimbulkan dua sisi yang berbeda: keceriaan dan kegetiran. Beruntunglah bagi manusia yang tetap ceria ketika hujan turun perlahan, dan berusahalah menjadi ceria jika sampai saat ini masih ada manusia yang murung melihat hujan karena memori yang tertinggal.
Baca Selengkapnya...

Jumat, 10 Agustus 2012

Tertusuk Kenangan

Sembari duduk bersandar almari, suara televisi menemani aktivitasku memainkan jemari di komputer lipat buatan Taiwan. Sedari siang tadi pikiranku terus melayang dan terbayang pada suatu daerah di ujung barat daya propinsi D.I. Yogyakarta. Tak terasa sudah dua hari aku telah meninggalkannya, daerah dengan suasana yang nyaman kala malam datang menjelang. Aku tak tahu mengapa aku begitu rindu akan hari-hari di Kalibuko 1—sebuah dusun yang aku sambangi barang 30 hari yang lalu. Sepertinya segala sesuatu yang aku lakukan di dusun itu begitu membekas jauh di sanubari.

Matahari terbit dari celah-celah bukit mampu membuka harapan baru bagi masyarakat Kalibuko 1.
Angin Kalibuko 1 telah mengajari aku betapa nikmatnya kehangatan kamar kost yang biasanya ku sebut panas, karena baling-baling kipas harus berputar setiap aku ada di dalam ruangan 3x4 meter ini. Kesederhanaan masyarakatnya begitu luar biasa, bagaimana bisa mereka bertahan dengan kondisi geografis seperti itu jika tanpa keteguhan dan kebersihan hati? Indah sekali.

Sekolah menengah hanya ada di kecamatan. Tak ada angkutan umum, hanya sebagian berkendaraan pribadi roda dua, selebihnya jalan kaki berpayung terik mentari. Sungguh luar biasa tekad masyarakatnya untuk terus berkembang.

Melimpahnya pohon kelapa di Kalibuko 1 membuat hampir seluruh penduduk menyadap nira, biasanya mereka mneyebutnya nderes. Ada sebuah filosofi kehidupan yang mendasar pada pekerjaan ini: ketika naik, mereka sadar betul suatu saat harus turun lagi. Nilai ini selalu diabaikan oleh sebagian besar manusia, ketika jaya manusia akan memanfaatkan segalanya demi ambisi dan tak menggubris sekitarnya masih meringis menahan lapar.

Aku takkan cerita banyak tentang Kalibuko 1, itu hanya akan semakin memperburuk kegalauan perasaanku, mengingat saat-saat tersebut merupakan waktu yang istimewa sekali bagi pengalaman sekaligus pendidikan mental.

Masa-masa itu memang telah kadaluwarsa, tapi begitu berbekas. Sementara tugas berat menuju masa depan gemilang sudah menanti kapan datangnya masa-masa bertoga, lalu kerasnya kehidupan telah menunggu tenaga dan curahan pikiran kita.

Aigh, nampaknya aku lupa. Selama aku masih menjadi anak kuliah—label mahasiswa sepertinya terlalu berat dipundakku—fungsi  sosial-kemasyarakatan sebagai anak kuliah tak boleh dianggap remeh: Lakukan apa yang kita bisa untuk mereka yang dirampas hak-haknya. Selama rembulan masih berada di langit, selama itu pula keletihan hanya akan menjadi candu dalam hidup kita.
Baca Selengkapnya...

Sabtu, 14 Januari 2012

Deru Ombak Tahun Baru

Malam tahun baru memang identik dengan selebrasi, tak jarang perayaannya sangat berlebihan. Namun kali ini aku dan beberapa teman Pers Mahasiswa “Keadilan” mempunyai cara berbeda dalam menyambut tahun baru 2012.

Lampion, penggambaran sebuah harapan
Sabtu, hari terakhir di tahun 2011. Saat itu mendung terlihat menggumpal, bergerak dari barat menuju timur, membelah bukit-bukit yang hijau bagaikan lemak yang menerobos daging untuk melekat pada sisi dalam kulit.

Dari depan reparasi motor di Jalan Imogiri Timur ini—tempat aku dan teman-teman Keadilan berdiri—aku menebak hujan telah turun di sekitar bukit. Setelah mekanik mengganti ban dalam motor milik teman kami, perjalanan  dilanjutkan setelah kurang lebih 20 menit berhenti.

Tebakanku membuahkan hasil, barang 10 kilometer roda kami berputar dari reparasi, hujan turun membabi-buta.  Teman yang ban dalamnya bocor tadi tak bawa jas hujan, padahal berboncengan. Jadi mau tidak mau kami harus berteduh, sekaligus menjaga bekal yang kami bawa agar tetap kering.

***
Aroma baksonya memang tak terlalu kentara, namun melihat bulatnya bakso sebesar itu, lidahku kemecer (Jawa:bergetar). Inilah resikonya berteduh di depan warung bakso.

Ketika hujan sedikit menghela napas, perjalanan dilanjutkan. Rombongan sempat tercecer setelah melintas di depan pasar, maklum saja jalannya bercabang lebih dari empat. Lagi-lagi hujan yang mempertemukan kami, dan lokasi berteduh kali ini rasa-rasanya tepat. Sebuah toko kelontong berukuran sedang,  ternyata jual jas hujan, beruntung sekali.

Aku sempat berpikir, apakah tahun baru kali—2012—ini harus berlalu di bawah riuhnya dentingan hujan? Kata hatiku menjawab, “Tidak.” Harapanku memang sedikit cerah, teman yang sudah sampai di Pantai Sadranan siang tadi, mengirim pesan singkat. Isinya memberitakan bahwa lokasi tak hujan, namun butuh lotion anti nyamuk.

Hujan memang masih deras, namun isi pesan singkat tadi mampu mematahkan kelesuan akibat hujan. Sedari Yogya, aku memang berkendara sendiri. Tanpa pembonceng, artinya tak ada teman ngobrol pas perjalanan. Sangat menjemukan, jalan pegunungan bak ular piton yang membelit mangsa ini ku lalui tanpa bicara sepatah kata pun. Pusing tak dapat dicegah lagi, ingin melepas helm, namun bagaimana jika nanti jatuh? Jika tetap di kepala, sangat menyiksa. Hujan pun plin-plan, kadang deras hingga sakitnya terasa di wajah, sering juga hanya gerimis yang sendu dan pilu.

Sesampainya di Pantai Sadranan, beberapa teman yang datang duluan menyambut kami. Tapi sebelum bergabung di tenda yang dibangun di bibir pantai, aku menyempatkan diri untuk ke kamar mandi. Kali ini tak sendiri, ada beberapa yang mengikuti.

***
Sempat kebingungan karena tenda rombongan tidak diketahui keberadaannya, lagi-lagi dengan teman yang ban motornya bocor tadi. Dari ujung ke ujung, hasilnya tetap nihil. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, kemarin temanku bilang jika ia pasang tenda bukan di bibir pantai, namun di balik dedaunan yang mirip pandan. Setelah menelisik akhirnya ketemu juga. “Thek…Kethek…,” teriakku yang  kemudian disahut oleh teman-teman kami.

Lokasi perkemahan kami sederhana, empat tenda dum berukuran sedang dibangun saling berhadap-hadapan. Ditengahnya sengaja diberi ruang kosong untuk menyalakan api unggun, tidak terlalu luas, namun setidak-tidaknya cukup untuk menampung kami semua. Di sisi barat tenda terdapat beton cor yang berbentuk mobil, kami pun tak ketinggalan untuk memanfaatkannya. Berbaring, bercengkrama, bahkan berfoto di beton itu.

Pukul 12 tinggal menghitung menit, sementara kami masih terlarut dalam kebersamaan. Gitar dan pita suara tak henti-hentinya bergetar, membawakan lagu rindu dan kebersamaan. Memang masa-masa seperti ini akan selalu kita rindukan, bukan sekarang, tapi di waktu yang akan menjelang. Demi Tuhan, kalian pasti akan merindukannya.

Tiba-tiba heningnya pantai berubah jadi gegap gembita, suara kembang api saling bersahut-sahutan, beradu dengan derasnya ombak di laut selatan. Semua larut dalam keceriaan, bersorak dan berlarian. Ketika aku menolehkan kepala ke kiri, dari atas beton cor berbentuk mobil ini kudapati dua pasangan muda-mudi tengah khusuk berdoa sembari berpelukan, setelah itu baru mereka menyalakan kembang api. Pembukaan tahun yang manis sekali bukan? Heuheu. Ya memang manis, sebuah resolusi akan mereka awali dari detik dan dari tempat ini.

Bagiku sebuah harapan besar tak harus timbul dari segala sesuatu yang bersifat besar, seperti perayaan tahun baru ini misalnya. Seminimalis apapun tempat kita merayakan tahun baru, asalkan substansinya tetap sebuah harapan positif, hasilnya akan tetap sama, kita akan memeperoleh suatu kepositifan hidup yang didamba.

Mereka  yang tinggal di pelosok daerah kemudian merayakan tahun baru melalui siaran televise pun takkan kalah besar harapannya dibanding dengan manusia lain yang merayakan tahun baru di pusat hiburan kota-kota besar. Harapan mereka akan teraktualisasi melalui daya juang kehidupan.

***
Beranjak 45 menit dari pergantian tahun, kami serombongan tengah asik menikmati ayam bakar yang dibakar bersama-sama. Proses pembakaran berjalan cepat, karena hanya sekedar memberi efek hangat saja, pasalnya ayam-ayam tersebut sudah matang direbus dari rumah. Kami makan hanya berpiring kertas minyak, semua harus makan tanpa terkecuali.

Setelah makan bukannya tidur, tapi justru asik dalam kebersamaan. Sementara aku memilih berbaring di dalam tenda,  menghemat energi untuk mengawali hari pertama di tahun 2012. Sempat aku nikmati tenangnya suasana daerah ini dalam pergantian tahun baru, jauh dari hingar-bingar. Termasuk asap kendaraan, suara mesin, dan raungan knalpot yang sengaja dibuat keras. Sebuah pengalaman yang mengajarkan aku tentang makna tahun baru yang sebenarnya. Sebuah resolusi, bukan hanya sebatas selebrasi. Tak ingat seberapa jauh kenikmatan itu, lalu aku terlelap dalam deru ombak tahun baru di pantai Sadranan. [*]

Baca Selengkapnya...

Selasa, 13 Desember 2011

Takut, Segan, atau Kasihan?

Catatan ringan. Perjalanan pulang dari Semarang menuju Yogyakarta. Ada saja kenangan yang sulit terlupakan, mulai dari hujan sampai berurusan dengan Polisi Lalu Lintas Resort Sleman.

Ilutrasi: Jalan Searah
Senin, 12 Desember 2011. Langit sudah berselimut mendung kala bus Nusantara yang aku tumpangi mulai masuk kawasan Yogyakarta. Gerimis tipis membuat jendela bus dipenuhi bintikan air, untungnya kondisi seperti itu tak bertahan lama. Setibanya di terminal Jombor, walaupun angkasa masih menyisakan mendung yang hitam legam, namun hujan tak lagi turun.

Semua penumpang turun, kebanyakan melanjutkan perjalanan dengan ojek, bus, atau angkutan umum lainnya. Sementara aku bergegas menuju tempat penitipan sepeda yang masih berada di dalam kompleks terminal. Aku menyerahkan karcis pada penjaga penitipan. “Motor e opo, Mas (Sepeda motornya apa, Mas)?” ujarnya. Dengan menunjuk salah satu motor, pria muda itu bukan hanya tahu apa motorku, melainkan juga tahu yang mana motorku.

Aku mulai menyalakan mesin motor setelah sebelumnya penjaga penitipan membersihkan debu di bodi. Ku tarik tuas chuck, sembari melihat ke arah mana aku harus keluar—pasalnya baru sekali ini aku berada di kawasan terminal Jombor. Benakku sempat ingin bertanya pada orang di sekitar, namun niat itu ku urungkan. Terbesit pikiran untuk mengikuti kemana arah para pengendara lainnya, tapi nyaris tak ada seorang pun yang bisa dibuntuti. Wanita dengan motor matik dibelakangku pun tak kunjung keluar dari penitipan, padahal itu satu-satunya pengendara yang bisa aku kuntit.

Akhirnya dengan semangat wani teros (berani terus), aku kembalikan tuas chuck, lalu menarik handpart gas, kemudian mengarahkan laju motor keluar penitipan dan membelokkan ke kiri serta ke kiri lagi.

Baru melaju kira-kira selemparan batu dari kawasan terminal, seorang Polisi Lalu Lintas (Polantas) menghentikan laju motorku. Ia mengucapkan salam sambil hormat, lalu menanyakan surat-surat. Eitz, tak semudah itu aku berikan? Pasalnya jika tak ada razia resmi, jangan sekali-kali menyerahkan surat sebelum tahu apa kesalahan kita. Maka dari itu, aku bertanya pada Polantas itu apa kesalahanku? Disertai nada ketus dan sedikit membentak ia katakan bahwa aku menerobos jalan satu arah. Dengan santai kembali ku tanyakan, mana rambu-rambu yang melarang? Dan Polantas itu menunjuk tangan ke arah plang rambu yang memang benar-benar tak terlihat olehku. “Itu loh, Mas. Dari sana ada, sebelumnya juga ada,” ujarnya.

Kuberikan SIM dan STNK padanya, lalu aku digiring untuk menepi. Nampaknya ia tak sendiri, seorang kawan sesama Polantas sudah berada di dalam kios—sepertinya itu kios penjual plat nomor yang dialih-fungsikan Polantas sebagai kantor, lucu sekali bukan? Heuheu. Menurut pendapatku Polantas sengaja berjaga di situ—walau tak ada pos Polisi—karena daerah tersebut berpotensi menjadi lahan basah bagi Polantas, semacam jebakan yang menguntungkan.

Polantas yang menstop aku tadi mempersilahkan masuk ke kios. Tanpa pikir panjang aku lepas helm lalu masuk ke kiosnya Polantas. Upz, salah? Maksudnya kios yang digunakan Polantas untuk bertugas.

“Selamat siang, Mas Bobby,” Polantas itu mengawali pembicaraan.
“Iya Pak, siang,” jawabku tak kalah lantang.
“Mas Bobby melanggar jalan satu arah, sidangnya besok tanggal 30 Desember ya?”
“Siap Pak.”
“Di Pengadilan Negeri Sleman”
“Beres.”

Entah mengapa aku tak ada niatan sedikit pun untuk menawar atau istilahnya bayar di tempat, aku benar-benar begitu yakin untuk menyidangkan perkara ini.

“Dari mana?”
“Semarang.”
“Kok lewat sini?”
“Ya kan dari terminal, Pak. Saya tadi naik bus, terus turun Jombor. Saya nggak tahu kalau jalan ini satu arah, rambunya juga gak kelihatan. Lha emang kalau dari terminal keluarnya harus lewat mana Pak? Saya masuknya lewat sini kemarin, gak tahu kalau ini bukan jalan keluar yang tepat.”
“Kuliahnya dimana? Semester berapa?”
“UII, semester 5.”

Kemudian dengan nada sedikit halus Polantas itu bertanya apakah aku baru sekali ini ke daerah ini, aku pun sontak menjawabnya iya. Entah apa yang ada di pikiran Polantas itu, tiba-tiba ia bertanya pada kawan seprofesinya yang di depan kios. “409 yo, Lek,” kurang lebih begitu tanyanya. Aku juga tak paham apa artinya, yang jelas itu sandi Kepolisian.

“Mas Bobby, ini nggak usah sidang saja,” katanya. Pikiranku sempat bertanya-tanya, apakah Polantas ini akan meminta uang damai? Mengingat apa yang dikatakannya tadi. “Silahkan melanjutkan perjalanan, tapi harus lewat jalan yang benar, bukan lewat sini,” tambahnya. “Owh, gitu Pak? sahutku. Dengan perasaan yang sedari awal tadi tenang, tidak gugup, dan selalu memberi jawaban lantang, akhirnya kini berubah jadi sedikit senang sembari melempar senyuman. Setidaknya tak ada uang yang mubadzir (sia-sia) karena masalah konyol.

Ku taruh SIM dan STNK ke dompet lagi. Dengan salam komando ala militer aku mengajak kedua Polantas itu untuk berjabat tangan.

Dengan menyisakan beribu-ribu pertanyaan aku mulai mengarahkan laju motor ke arah yang menurut Polantas benar, pertanyaan itu tak lain tak bukan adalah mengapa aku tak jadi ditilang?

Ada dua hipotesis yang bisa aku simpulkan, takut, segan dan kasihan. Sudah aku katakan sebelumnya bahwa aku sedari awal tak ada perasaan gugup, aku pun selalu menjawab pertanyaan dengan lantang dan meyakinkan. Ditambah penampilanku yang urakan—gondrong, pakaian tak terlalu bersih, dan terkesan sangar. Itulah alasanku yang menyimpulkan Polantas itu takut dan segan.

Kemudian mengapa aku juga simpulkan Polantas itu kasihan? Mungkin ia melihat SIM dan STNK, di situ terpampang jelas alamat asal. Terminal Jombor tak terdapat satu pun bus menuju kota asalku, jadi ia percaya bahwa aku tak berbohong ketika aku berkata baru sekali ke daerah di mana aku melakukan kesalahan ini.

Takut dan segan, atau memang kasihan? Anda sendiri yang menyimpulkan, yang jelas aku bebas dari tilang dan sidang. [*]
Baca Selengkapnya...