Rabu, 29 Juni 2011

Perjalanan Spiritual Iwan Fals dan Ki Ageng Ganjur

Pondok Pesantren Bukan Sarang Teroris* 


Kang Sastro dan Iwan Fals mengupas makna lagu yang baru selesai dinyanyikan.
              Selasa malam (31/05) suasana lapangan Djabalkat, Pondok Pesantren (Ponpes) Al Qodir, Cangkringan, Sleman, DIY tampak begitu berbeda dari biasanya. Ribuan orang memadati area tersebut, untuk menyaksikan konser Religi Iwan Fals dan Ki Ageng Ganjur dari Yogyakarta. Ki Ageng Ganjur sendiri adalah sebuah grup musik yang membawakan lagu-lagu religi, hampir keseluruhan dimainkan oleh santri-santri asuhan Dr. Al Zastrouw Al Ngatawi (Kang Sastro).

          Ponpes Al Qodir menjadi ponpes ke 53 dari 99 ponpes yang akan dikunjungi Iwan Fals dalam pertunjukan musik bertajuk Perjalanan Spiritual Iwan Fals dan Ki Ageng Ganjur ke Pondok Pesantren. Setelah pengajian akbar, dan dua santriwati menyanyikan beberapa lagu religi dengan iringan Ki Ageng Ganjur, Iwan Fals naik panggung disertai sambutan hangat oleh Orang Indonesia atau lebih akrab disebut OI (Penggemar Iwan Fals) yang sengaja hadir untuk menyaksikan performance idolanya. Selain menyanyi, Iwan Fals juga berdakwah dan berkampanye tentang islam itu adalah agama yang cinta akan kedamaian. “Pondok pesantren bukan sarang teroris, <span class="fullpost"> bukan basis NII, bukan pembenci agama lain, tapi dari sinilah kebudayaan dan intelektual itu tercipta”, kurang lebih begitu teriakan Iwan Fals dan langsung mendapat tepuk tangan meriah dari seluruh penonton yang hadir.

            Desa, Bung Hatta, Tanam-Siram, Bongkar, Bento, Hiyo, dan Cinta menjadi lagu pilihan yang dinyanyikan oleh Bang Iwan (sapaan akrab Iwan Fals). Tiga lagu terakhir merupakan hasil duet dengan Sawung Jabo. Karena penampilannya diiringi oleh Ki Ageng Ganjur, maka laagu-lagu yang dibawakan sengaja diaransemen ulang. Tapi justru dengan bungkusan baru, lagu-lagu tersebut terlihat lebih nikmat untuk didengar.

            Lagu pertama dengan judul Desa dinyanyikan khusus bagi penduduk setempat untuk menggugah semangat pasca tragedi bencana erupsi Merapi tahun lalu, terlebih peran desa selaku penyeimbang kota harus lebih diberdayakan lagi. Manakala timbul perbedaan pendapat, maka yang harus dilakukan adalah menghargai pendapat orang lain. Seperti yang tersirat dalam lagu berjudul Bung Hatta. Lagu ini juga memberikan pencerahan pada umat Islam sendiri untuk saling menghargai kepercayaan seluruh umat manusia, baik intern sesama muslim serta ekstern dengan pemeluk agama lain.

            Bukan hanya sebatas itu, dalam kesempatan ini Iwan Fals sengaja berkolaborasi dengan wayang golek yang dimainkan Ki Enthus Susmono. Ki Enthus dan Kang Sastro juga mengupas secara ringan makna dari lagu-lagu yang dibawakan Bang Iwan, seperti paragraf di atas mengenai makna lagu Desa dan Bung Hatta. Hadirnya wayang golek serta lawakan seputar permasalahan agama dan manusia dari keduanya menambah kemeriahan acara tersebut, tak ayal tingkah konyol dari golek-golek dan guyonan rakyat tersebut mengocok perut penonton.

            Tokoh golek itu antara lain Subur, Karno, Mr. Udud, SBY, AA Gym, Alm. Gus Dur, bahkan Mr. Barack Obama. Mr. Udud digambarkan sebagai seseorang yang gemar menghisap nikotin, kehadirannya sedikit merefleksi kembali tentang haramnya manusia menikmati rokok dengan uang halal hasil jerih-payah manusia itu sendiri. Sedang tokoh Karno merupakan gambaran dari seorang pemuda pengangguran yang sering menghabiskan waktunya untuk menikmati cairan alkohol, karena merasa ada sesuatu yang tak beres dari Karno, maka salah satu Da’i terkenal-pun hadir memberi pencerahan pada Karno untuk segera bertobat. Namun tak segampang itu Karno mematuhi perintah sang Da’I, karena ternyata Karno sendiri sudah mengetahui riwayat terkini Da’i tersebut. Menjadi mantan preman dan pemabuk akan lebih mulia daripada mantan Da’i merupakan inti dari percakapan mereka berdua. Pemimpin negeri yang selalu curhat pada rakyatnya juga turut memeriahkan penampilan golek malam itu, terlebih pemimpin tersebut juga terkesan sering mendapat setiran dari pihak luar. Dari semua permasalahan itu, kemudian hadirlah Alm. Gus Dur hadir untuk mengatakan satu kalimat yang mujarab “gitu aja kok repot” sebagai pencerahan tentang masalah yang tidak ditempatkan sesuai tatarannya. Seperti permasalahan besar yang disepelekan, tapi masalah sepele justru dibesar-besarkan.

            Penampilan Iwan Fals malam ini bukan sekedar konser biasa, berkat kolabrasi yang apik dengan beberapa pihak, pagelaran ini merupakan terobosan baru di bidang seni dan dakwah. Walaupun rambutnya sudah tak lagi hitam, namun semangatnya untuk tetap berkarya dan bermusik tetap membara. Bak selalu ada api dalam genggaman tangannya, yang sewaktu-waktu bisa beliau lempar ke arah ketidakadilan di negeri ini.

           Konser religi yang turut mengundang pemuka agama lain tersebut ditutup dengan menyanyikan sholawat bersama ribuan penonton. Di tengah realita kekerasan yang mengatasnamakan agama, dengan pesan damai Islam serta memprioritaskan akhlak sebelum syari'at, pagelaran ini hadir sebagai sebuah konser religi yang istimewa. </span>


* : Tulisan ini telah dimuat di buletin Keadilan Post (LPM Keadilan FH-UII) edisi Juni 2011. 

Foto Terkait:

Dari Balik kamera

Ini jempolku, Mana Jempolmu?

Bersatulah Jempol Orang Indonesia

Istimewanya Kolaborasi

Aku dan Sorot Lampu Panggung

Ada Cahaya di Antara Kami Bertiga

Teriakan-Tangisan


Baca Selengkapnya...

Selasa, 31 Mei 2011

Pandangan Mata Turun ke Hati


          Setelah membaca pesan singkat beberapa waktu yang lalu, aku hanya bisa termangu dan membisu. Memang bukan tanpa sebab, sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat disertai ketertarikan pribadi atau yang kebanyakan orang menyebutknya dengan kata “C.I.N.T.A” menjadi garis besar untuk tulisan selanjutnya dalam kegiatan menulis. Yang menjadi masalah besar bukan bagaimana aku harus menulisnya tapi, tentang apa yang harus aku tulis? Terlebih kurangnya kesadaran dan konsistensi diantara kami sendiri, membuat aku semakin berpikir untuk menulis sesuatu yang sifatnya pribadi ini.

          Cinta itu bak politik. Berawal dari kebaikan tertinggi bernama kenikmatan, tapi bisa berujung dengan kebaikan terendah yang disebut penderitaan. Seperti yang telah aku tulis sebelumnya dalam blog ini, dengan judul Realita Politik dan Cinta. Cinta dan politik itu mempunyai inti yang sama, indah diawal tapi berakhir pilu. Initinya “Saling mengumbar rasa, menyatakan Aku milikmu dan Kau milikku. Betapa indahnya dunia serasa saat itu, jangankan hanya dunia? Seluruh alam semesta—seluruh tata surya bahkan surga dan neraka—serasa milik berdua. Sungguh disayangkan, jika telah terjadi sebuah prahara dalam cinta, tapi tiada keseimbangan antara rasa pengertian dan saling menghargai. Maka cinta itu akan melebur tersapu waktu, dan kemudian terciptalah sakit hati. Hingga akhirnya berlabuh pada hati yang lain, hati yang berbeda. Karena itulah<span class="fullpost">Panglima Tian Feng berkata, "itulah cinta, deritanya tiada akhir".”

            Aku memang sempat merasakan indahnya saat-saat itu. Sekolah Menengah Atas (SMA) memberiku banyak pengalaman tentang arti cinta—mencintai dan dicintai—yang kebanyakan mereka menyebutnya cinta monyet. Entah dari mana asal-muasal kata monyet setelah cinta, yang jelas intinya cinta yang ada ketika masa remaja dan biasanya hanya untuk kesenangan semata. Eitz, itu menurut beberapa orang di luar sana. Bagiku semua itu adalah pengalaman, yang kelak akan menjadikan kita semakin matang dalam hidup dan menjalani kehidupan.

            Aigh, sebenarnya jauh sebelum menginjak dunia SMA aku telah merasakan ketertarikanku pada lawan jenis. Rasa itu telah ada, hanya nyali yang menciut membuatku harus memendam segala apa yang aku rasa. Tak hanya satu atau-pun dua lawan jenis saja. Mungkin lebih dari itu wanita yang telah aku jatuhi hati lalu aku tak berani mengungkapkannya, betapa lucunya mengingat masa-masa itu. Mungkin sampai sekarang perasaan itu masih menempel ketat di benakku, walaupun hanya tinggal beberapa persen saja.

            Banyak manusia yang terlena akan awal kebaikan tertinggi ini, mereka lebih sibuk dengan kamuflase cinta daripada hal primer mereka. Tak ada patokan pasti memang, karena hal primer tiap manusia itu berbeda. Tapi setidaknya mereka bisa berpikir lebih jauh tentang cinta tidak sama dengan nafsunya, walaupun itu sulit menurutku.

            Selama ada ikatan, kebebasan pasti akan berkurang. Saat itu pula kita dituntut untuk merefleksi kembali makna kebaikan tertinggi tersebut. Sama seperti yang aku alami dari masa-masa aku pacaran dulu. Menurut keterangan seorang sahabat facebook melalui update statusnya menuliskan bahwa cemburu adalah tanda posesif, pertanda bahwa kamu takut jika ada orang yang mencuri hati orang yang kamu cintai. Dari kalimat di atas memang wajar jika seseorang itu membatasi gerak-gerik kekasihnya, tapi menurutku harus ada batasan tentang arti dan perbedaan antara cinta dengan pengekangan.

            Mungkin hanya itu, selebihnya biarlah menjadi angin lalu dalam keheningan kalbu. Memang tak ada sesuatu yang menarik dalam kisah ini, terlebih yang tersurat dalam tulisan di atas. Mungkin kehambaran tulisan, sama seperti kebaikan terburukku saat menjalani kisah-kisah dari pandangan turun ke hati terdahulu. Sekian dan terima kasih.</span>
Baca Selengkapnya...

Rabu, 27 April 2011

Pendakian Tanpa Tanda Jasa

          Sabtu pagi, 23 April 2011 yang lalu. Kulihat jam di dinding telah menunjukkan pukul 06.00 WIB. Kala itu pagi sangat cerah, sampai-sampai sinar mentari memadati seisi kamar tidurku. Sinar itu sekaligus pertanda bagiku untuk sesegera mungkin bergegas menuju kamar mandi, setelah itu mempersiapkan apa saja yang perlu dibawa. Hari ini aku akan mendaki. Mendaki? Ya, mendaki gunung tepatnya. Aku serta beberapa sahabatku—Indra, Damar, Alan, Luqman, Ory, Yanuar, serta Punk—memang  sudah merencanakan hal ini. Gunung Lawu via salah satu jalur ekstrimnya yang tidak ingin disebut namanya menjadi pilihan pendakian kami.

Alan, Ory, dan Damar mempersiapkan peralatan dan logistik di depan base camp Pualam.
          Luqman, pemuda berkulit putih itu sudah menjemputku. Kami berdua berboncengan menuju pos induk—setelah sebelumnya kami sempatkan berkumpul di base camp Pualam (Perkumpulan Pecinta Alam SMAN 1 Sragen), untuk melengkapi bekal dan menunggu sahabat yang lainnya—dengan empat sepeda motor.

          Perjalanan ke pos induk bukan tanpa halangan. Motor plat merah yang dikendarai Damar menemui sedikit masalah, oli mesinnya habis. Untung saja rombongan kami sudah berada di kawasan pos induk, hanya beberapa meter dari kami berhenti. Setelah Yanuar dan Punk turun bukit untuk membeli sebotol oli, semua itu bisa teratasi.

Ory dan Damar kembali memeriksa perlengkapan sebelum memulai pendakian.
          Jajanan khas pos induk menggoda selera kami, nafsu untuk menikmatinya sudah tak terbendung lagi. Sembari mempersiapkan ulang segala keperluan pendakian, kami sisihkan uang untuk membeli jajanan itu.

          Saat matahari tepat berada di atas kepala, tapi waktu belum menunjukkan pukul 12.00 WIB. Tanpa berdoa pendakian kami lakukan, aku tak tahu entah karena lupa atau disengaja. Owh ya, mungkin karena berdoa adalah urusan manusia dengan Tuhannya? Jadi tak perlu untuk terlalu diperlihatkan.

{Dari kiri ke kanan} Aku, Punk, Ory, Luqman, Damar, Yanuar (berdiri), dan Indra.
          Diawali dengan menapaki tangga satu demi satu, lalu sampai di tebing dengan turunan yang curam, kemudian berujung pada sungai yang jernih airnya. Dari sungai kami harus menaiki tebing yang berbeda, intinya kami harus menyeberangi sungai. Setelah itu sampailah di Reca Kethek (Candi Monyet:Jawa). Walaupun tempuh normalnya 60 menit, kami hanya membutuhkan waktu selama kurang lebih 45 menit untuk mencapai pos 1. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami sempatkan beristirahat sejenak di pos ini. Sembari menikmati indahnya kabut tipis yang menyelimuti bukit di sekeliling pos 1.

Pos 2 setelah turun hujan, sejuknya menentramkan.
          Menuju pos 2, medan yang kami tempuh sama seperti medan antara pos induk dengan pos 1 tadi. Jalan setapak dengan dasar tanah liat, berundak layaknya tangga. Terjalnya sama, waktu tempuhnya-pun tak jauh berbeda. Hanya hujan ditengah perjalanan menuju pos 2 yang membedakannya. Dengan pertimbangan barang yang ku bawa, maka aku putuskan memakai mantel yang kebetulan berwarna cokelat muda. Sesampainya di pos 2 kami berteduh di bawah atap yang sederhana, berteduh yang hampir tak ada bedanya dengan tak berteduh. Bocor di sana-sini, mungkin karena saking sederhananya. Setengah jam kami menunggu, hujan akhirnya reda dengan sendirinya. Tak ada salahnya melanjutkan kembali perjalanan, walaupun sudah pasti jalan licin tak kepalang.

Track yang terjal membuat kami sering berhenti untuk sekedar mengatur napas.
          Jarak antara pos 2 dan pos 3 ini terhitung paling jauh. Selain itu, medan yang semakin terjal membuat kami harus sering-sering berhenti untuk menghela nafas. Apalagi track menjadi licin karena hujan. Tapi menurut Indra, kami hanya menempuhnya selama 35 menit. Padahal sewajarnya lebih dari 60 menit, dengan tidak meragukan kemampuan Indra menurutku ini—penghitungannya—human error. Pos 3 letaknya strategis, dekat dengan sumber air. Konstruksinya pun jauh lebih baik dari pos 2. Sayang, dari pos ini tak terlihat indahnya senja. Karena sekitar pukul 15.00  WIB, kabut tebal mulai menutupi jarak pandang kami.


          Pos 3 ini menjadi tempat istirahat sekaligus bersantap. Semua peralatan masak dan makan, lengkap dengan logistik—beras, mie instan, telur, kopi—kami keluarkan dari tas. Diawali Ory yang menanak beras menjadi nasi, lalu kami semua sibuk membuat kudapan seadanya. Hash, tanpa sengaja Luqman menyenggol kocokan telur yang sudah siap goreng. Kejadian itu mengakibatkan jatah telur goreng untuk tiap orangnya berkurang, bagian telur kami jadi tipis sekali. Setelah perut kenyang, kami sempatkan untuk bergaya di depan kamera. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 16.30 WIB, kami harus melanjutkan perjalanan. Agar tak terlalu malam sampai di rumah sekaligus warung Mbok Yem, tempat kami akan bermalam nanti.

Beberapa dari kami sengaja melepas baju karena basah kehujanan.
          Perjalanan menuju pos 4 tak menemui cobaan yang berarti, tapi terjalnya track membuat kami harus menguras tenaga yang tak sedikit. Sesampainya di pos 4 perasaan kami menjadi gundah-gulana, bagaimana tidak? Petir dan kilat saling bersahutan, seakan badai akan menerjang Lawu bagian barat laut ini. “Aigh, apa-apaan ini? Mengapa cuaca tak bersahabat dengan kami?” pekikku dalam hati. “Hash, mana bangunan pos 4 sudah rata dengan tanah lagi. Mau berteduh dimana ni?” lanjutku memekik tapi sekali lagi masih dalam hati.

          “Sek, enteni teko jam setengah pitu. Engko nek enek bintang lanjut, tapi nek gak nge-camp nang kene po mundhun nang pos 3 wae yo(sebentar, tunggu sampai jam setengah tujuh. Nanti kalau muncul bintang kita lanjut, tapi kalau tidak kita bermalam di sini atau turun ke pos 3 saja)?” ajak Ory pada kami semua. Kami pun menyetujuinya dengan serempak.

          Sebelum hujan turun dan keadaan menjadi lebih menyerankan, Ory berinisiatif mendirikan pos berbentuk tenda seadanya. Memang anak yang satu ini sudah terlatih untuk hidup di alam, menurutku mulutnya yang cerewet  sebanding dengan kinerja dan pengetahuannya tentang alam. Aku hanya bisa melihat teman-teman membangun kembali pos yang rusak, maafkan aku teman, tak ada keahlian sedikitpun dalam hal yang satu ini. Hujan terlalu cepat datang sebelum tenda sederhana kami jadi, hujan yang datang kala itu cukup membuat kami panik. Dengan sigap kami masukan segala bawaan, termasuk raga kami masing-masing.

Bergaya setelah terguncang badai semalam suntuk.
          Sampai pagi, yang dinanti—hujan, petir, dan kilat—tak kunjung padam. Malang nian nasib kami, harus bermalam di pos 4 ini. Tenda yang ku sebut gubuk derita ini tak mampu melindungi kami, yang ada hanya tidur berkasur air dan berselimut angin. Memang banyak pelajaran yang kami dapatkan di pos 4 ini, salah satunya tentang keharusan menikmati sesuatu yang tak nikmat. Bagiku tak ada salahnya belajar hidup sulit, asalkan tidak mempersulit hidup.

          Hari sudah berganti, dan pagi pun telah menjelang. Layaknya manusia biasa kami butuh apa? Ya, sarapan. Secepat mungkin kami mempersiapkan sarapan, sementara Indra masih tertidur dengan posisinya yang menurutku tidak nyaman sama sekali. Pukul 09.00 WIB kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah Mbok Yem, setelah sempat terjadi tarik-ulur pertimbangan antara turun atau melanjutkan pendakian.

Mempersiapkan sarapan di depan gubuk derita.
          Hanya membutuhkan waktu 30-an menit untuk sampai di Cemara Dua. Kemarin jika tak terhalang hujan, sempat ada rencana untuk beristirahat di sini sebelum melanjutkan pendakian. Baru kemudian bermalam di warung Mbok Yem. Dan alam pun berkata lain, bertolak belakang dengan apa yang diangankan. Setelah beristirahat di sini, perjalanan kami lanjutkan menuju pos 5. Eksotisnya luar biasa, sabana sebelum dan sesudah pos 5 menjadi obat bagi keletihan kami. Di pos 5 hanya ada satu tugu kecil, menurut Yanuar itu batas antara Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Ngawi, dan Kabupaten Magetan. Letak tugu itu berada di sisi timur Gunung Lawu.

Setibanya kami di Cemara Dua.
          Padang sabana yang terhampar luas kami lalui, hingga akhirnya sampailah di Tapak Menjangan, konon di sini dahulunya menjadi tempat hewan bernama menjangan melepas dahaga (sejenis kijang). Ada dua cekungan kecil, dimana cekungan itu terdapat air—bukan sumber mata air, melainkan air hujan—yang menggenang. Mungkin anda harus memikirkannya berulang kali ketika ada seseorang yang mengatakan jika meminum air hujan mengakibatkan diare, buktinya setelah kami meminum langsung air tersebut sampai sekarang kami masih sehat-sehat saja. Apa harus menunggu air di dunia ini tak mengalir lagi, agar mereka sadar bahwa uang tak dapat dimakan dan diminum? Sangat memprihatinkan.

Alan melepas dahaga dengan meminum air genangan hasil  hujan semalam di Tapak Menjangan.
          Perjalanan kembali berlanjut, menyusuri tebing dengan pemandangan yang begitu indah. Terlebih kita hanya bertugas menjaga, bukan membuatnya. Tak lama kemudian tibalah kami di Pasar Dieng atau Pasar Demit. Mitosnya jika anda mendengar ucapan, ”tumbas nopo dek(beli apa dek)?”. Segeralah membuang uang berapa-pun juga nilainya, lalu petiklah daun atau rumput seolah-olah kita berbelanja. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, kita akan memperoleh kembalian uang dalam jumlah yang sangat banyak.

          Warung Mbok Yem sudah terlihat begitu kami keluar dari Pasar Dieng, mantel yang aku pakai sebelum Pasar Dieng tadi ku lepas karena air hujan tak lagi menetes. Hanya dalam hitungan menit sampailah kami di warung puncak Mbok Yem, tepat di pukul 11.59 WIB. Seperti biasa, nasi pecel dengan lauk telur dadar menjadi menu istimewa bagi kami. Tapi berhubung sudah tak ada lauk lagi—telur dan kerupuk—kami ditawari Mas Muis—dahulunya peziarah Lawu yang akhirnya sekarang menemani Mbok Yem berjualan di warunnya—soto. Semangkok soto dan segelas teh anget menyambut lidah dan tenggorokan kami. Setelah akhirnya ku ketahui, kami hanya di suruh membayar sotonya saja, tidak dengan teh angetnya.

Alan, Aku, Damar, Indra, Luqman, Punk,  dan Ory berpose di depan warung puncak "Mbok Yem".
          Hanya sekitar satu jam kami menikmati suasana lereng Hargo Dumilah, tak sempat kami menyambangi Hargo Dumilah yang berjarak kurang lebih 500 M dari warung Mbok Yem ini. Karena keterbatasan waktu, esok Luqman ada ujian kompetensi di kampus, dan aku juga harus kembali ke perantauan. Maka kami putuskan warung Mbok Yem sebagai puncak idaman.


          Sebelum pulang kami bertemu dengan rombongan pendaki dari Ibukota, mayoritas memakai peralatan canggih dan lengkap. Berbeda dengan kami, serba minimal di ambang keterbatasan. Santai saja kawan ini hanya masalah prestige (gengsi), dengan segala keterbatasan bukan berarti kita harus berhenti mendaki. Bagiku, sejatinya bukanlah apa yang dimiliki tapi bagaimana kita memilikinya.

          Hujan masih setia menemani hingga perjalanan turun, itu sebabnya sampai di pos induk langit sudah gelap. Turun gunung hanya membutuhkan waktu sekitar lima jam, ini bisa lebih singkat jika hujan tak turun seperti tadi. Sesampainya di pos induk, tepat di depan gapura salah satu candi yang tak ingin disebut namanya kami mengistirahatkan kaki-kaki yang mulai kehilangan kekuatannya, sembari melihat temaram lampu kota dari pegunungan. Perjalanan pulang kembali terhambat, lagi-lagi motor plat merah yang dikendarai Damar mengalami masalah, kali ini bocor ban. Menurutku hakekat motor negara juga harus digunakan untuk melaksanakan tugas negara, logikanya seperti itu.

Kebersamaan itu indah, dan bagiku indah itu kebersamaan di atas perbedaan. 
          Sebelum pulang menuju rumah masing-masing, kami menyempatkan diri singgah di base camp Pualam. Hanya untuk menikmati nasi sayur berpiring daun pisang yang lebar, dengan lauk tempe mendoan. Kami makan, minum, dan tertawa bersama. Percayalah, suatu saat nanti kita akan merindukan saat-saat seperti ini. Biarkan malam itu menjadi kenangan untuk malam-malam selanjutnya. Selama rembulan masih bersinar di gelapnya malam, kita tetap menjadi sahabat selamanya.

          “Kebersamaan itu indah” sesuai dengan jargon Pualam, jika boleh menambahkan “indah itu kebersamaan di atas perbedaan”. Perjalanan ini bukan sekedar perjalanan biasa, menikmati sesuatu yang tidak nikmat hanya kita ber-delapan yang diizinkan merasakannya. Semoga apa yang kita lakukan kemarin tak menjadi sia-sia, hanya diri kita sendiri yang akan mengubah pola pikir serta kedewasaan kita. Selamat berkarya sahabat, apapun bentuknya, selalu ku rindukan kebersamaan itu lagi.
Baca Selengkapnya...

Sabtu, 09 April 2011

Mobilitas

          Berkumis tebal, namun tak berjenggot. Rambutnya hitam dan lurus, tertata rapi dengan sibakan di pinggir. Matanya sipit. Hanya dengan melihatnya bicara, kesipitan itu akan tampak jelas bagi lawan bicara, lebih-lebih ketika tertawa. Bahkan, kacamata yang menggantung di atas hidung mancungnya, tak mampu menutupi mata sipit pria keturunan itu.

         Sore itu ia mengenakan kemeja putih, dasi bergaris, serta celana hitam legam. Gaya bicaranya khas, berintonasi tajam kemudian sesekali lembut. Bagiku, mengenai gayanya berbicara tak dapat dilepaskan dari tuntutan profesi sebagai seorang dosen hukum internasional.

        Sekalipun bisa dikatakan ia seorang pakar hukum internasional, namun ketertarikan pada antropologi terlihat jelas dalam bukunya Hukum Kekerasan dan Kearifan Lokal. Ia mengambil Sulawesi Selatan sebagai sample penelitian, empat tahun silam. Sebagai muslim, sepertinya tak cukup jika hanya menguasai dua kecenderungan ilmu itu saja. Terbukti yang bersangkutan juga intens memantau peradaban islam, tidak sedikit tulisannya menanggapi permasalahan seputar Islam. Islam, Neo-Imperialisme dan Terorisme menjadi salah satu tulisan tentang Islam yang ia buku-kan.

            Dibandingkan dengan dosen lain secara umum, terkait dengan rutinitas, memang terkesan “hiperaktif”. Ia memiliki mobilitas tinggi, tak jemu untuk melalang buana dari satu universitas ke universitas lain. Entah mengajar, berburu ilmu, atau berkarir. Karena itulah tugasnya yang utama sering terlewatkan. Ia sering absen mengajar, padahal sejatinya ia dosen tetap Fakultas Hukum-Universitas Islam Indonesia (FH-UII) Yogyakarta. Tapi semua itu tak jadi masalah ketika pria paruh baya kelahiran Bandung, 8 September 1956 ini mengganti pertemuan yang terlewatkan dilain waktu.

            Hhm. Hari ini merupakan hari terakhir kelas kami bertatap muka dengannya, sebelum ujian tengah semester (UTS) yang akan dilaksanakan minggu depan. Sial, ia selalu memberikan banyak tugas untuk dikumpulkan saat UTS. Mayoritas mahasiswa FH-UII tahu betul tentang ini. Dan sebagian besar mengeluhkan tanggungan tugas yang ia berikan, tapi itulah cirinya. Ciri yang tak ditemukan pada dosen FH-UII lain, sekalipun sama gelarnya.

            Kegagalannya menjadi anggota komisi yudisial seakan terlupakan dengan mobilitas. Setelah perkuliahan selesai, aku mencoba berbincang-bincang. “Minggu ini perkuliahan kita habiskan karena minggu depan saya harus mengajar di Unair Surabaya”, kurang lebih begitu jawabannya terhadap beberapa pertanyaanku tentang mobilitas sang dosen itu sendiri. Akibat dari semua itu perkuliahan diringkas dalam waktu seminggu, keletihan begitu terasa bagi mahasiswa, tapi tidak untuknya. Seperti inikah semangat pria paruh baya? Bukannya lebih indah menikmati suasana senja di Yogyakarta? Upz maaf, ini hanya celotehan-ku saja.

            Langit sore semakin merah, sepertinya matahari ingin segera beristirahat di singgasana ufuk barat. Senja meninggalkan pelajaran penting tentang mobilitas, mobilitas teratur dengan tujuan tertentu, namun pasti. Semakin tinggi mobilitas, maka semakin banyak pula pengalaman yang didapatkan. Namun, mobilitas idealnya memang harus terkontrol. Agar apa yang menjadi kewajiban utama tak dikesampingkan begitu saja. Dan setidak-tidaknya Profesor yang berumur 56 tahun ini memiliki tanggung jawab yang begitu besar di balik mobilitasnya yang luar biasa. Buktinya tujuh kali peertemuan tetap ia penuhi, walaupun rasa-rasanya tetap berbeda.

            Mobil sedan hitam yang dikemudikan sopir berekemeja hitam itu mengantarnya pulang, mungkin sopir itu pula yang sering mendapatkan keluh-kesahnya. Owh iya, nama pria paruh baya itu Prof. Jawahir Thontowi, S.H, Ph.D.

Baca Selengkapnya...

Minggu, 27 Maret 2011

Manusia Penyembah Benda

            Keris, senjata tikam tradisional yang beralih fungsi menjadi sarana budaya di kawasan Nusantara, khususnya bagian tengah dan timur (Jawa). Bagiku keris Jawa berbeda dengan senjata tajam lainnya. Cukup sulit untuk membedakan antara yang satu dengan lainnya, tapi setidak-tidaknya unsur keris Jawa bisa dijadikan alasan tentang berbagai pertanyaaan-pertanyaan di luar sana.

         Bentuknya khas, tiada dua di dunia. Terdiri dari berbagai bagian: bilah, gagang, dan sarung atau pembungkus. Bilah (wilah:Jawa atau daun keris) dibuat berkelok-kelok, berkeloknya bilah dipercaya untuk meminimalkan penderitaaan sang tertikam. Ini menandakan bahwa orang Jawa begitu lembut, sekalipun dalam peperangan.

            Bilah tak dapat berdiri sendiri tanpa adanya penopang, atau gagang keris, dan juga sering disebut hulu keris. Keris yang menawan tak bisa dipisahkan dengan nilai estetika, karena itulah ukiran indah selalu menghiasi gagang keris. Salah satu ciri peradaban seni Jawa, terlepas semua itu terdapat campur tangan budaya asing atau tidak.

Ilustrasi Keris
        Keris sebagai senjata dan alat upacara dilindungi oleh sarung keris  (warangka:Jawa). Sebagai pertanda ketidak-seronokan masyarakat Jawa, sebuah keris-pun harus dibungkus sedemikian rupa. Kesan menyeramkan dan tak elok (saru:Jawa) pada senjata tajam akan luntur, ketika keris berada dalam sarung yang berukir indah dan dilengkapi padanan warna yang tepat. Hanya keindahan yang tersisa.

            Masyarakat jawa memang tak bisa dipisahkan dengan mitos, begitupun juga dalam pembuatan keris. Konon masyarakat Jawa percaya pembuatan keris sebagai senjata tajam membutuhkan berbagai syarat yang pelik, diantaranya prihatin. Prihatin dalam Jawa biasa diartikan perih yang hanya disimpan dan dirasakan di dalam batin. Bentuknya bermacam-macam -puasa, bertapa, atau hanya sekedar membakar dupa-. Ini memang mitos, suatu keseimbangan yang rawan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat.

            Setelah bagian-bagian serta berbagai hal yang bersyarat menjadi satu kesatuan dengan nama keris. Dari situlah keris sering dipercaya memiliki kekuatan gaib. Tidak sedikit yang menilai kekuatan gaib berada di luar ranah kelogikaan manusia. Memang benar, tetapi aku-pun juga berhak beranggapan jika kelogikaan manusia itu ada batasnya.

            Banyak kalangan yang selalu menertawakan, mencibir, bahkan menyalahkan mitos Jawa, tapi siapa yang berhak menyebut kepercayaan orang lain itu takhayul? Bagiku sah-sah saja ketika kita beranggapan diri sendiri benar, tapi bukan paling benar, dan yang terpenting tidak menilai orang lain salah.

           Ketika anda beranggapan jika tulisan di atas hanya imajinasi penulis, itu benar. Tapi ketika anda menilai tulisan itu salah, sepertinya anda harus membuat tulisan tandingan sebagai pencerahan, untuk mencari sesuatu yang hilang dalam mimpi yang sempurna. Sekian dan terima kasih.         
Baca Selengkapnya...

Rabu, 23 Maret 2011

Bonekmania, Mari Tinggalkan Kekerasan Menuju Persaudaraan

         Mendung yang menyelimuti langit Kota Sleman sore itu (20/3) tak sedikitpun menyurutkan nyali ribuan Bonekmania. Kelompok suporter asal Surabaya ini memang tergolong pendukung fanatik klub Persebaya 1927 yang berlaga di Liga Primer Indonesia (LPI). Apapun akan mereka lakukan untuk Persebaya 1927. Termasuk datang ke Yogyakarta yang hanya berbekal dengan keberanian, atas dasar itulah tak ayal mereka menamakan dirinya sebagai Bondo Nekat (bermodal nekat). 


          Keberadaan Bonekmania dinilai meresahkan kenyamanan publik, karena terkadang ulah para Bonek sudah tidak dapat ditolerir oleh masyarakat. Bagiku kelakuan menyimpang Bonek tak terlepas dari provokasi oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Saat mereka bergabung menjadi satu dalam lautan massa dan menamakan dirinya sebagai Bonekmania, saat itulah mereka sangat rentan dengan provokasi-provokasi yang menyesatkan.

          Bonek memang anarkis. Tapi di balik anarkismenya terdapat rasa kekeluargaan yang begitu kuat. Militansi Bonek untuk mendukung Persebaya tak perlu diragukan lagi. Selama sinyal wani tetap menjadi lecutan di hati. Selama salam satu nyali tetap terucap dari satu Bonek dengan Bonek, serta kelompok suporter lainnya. Selama itu pula Bonekmania akan tetap eksis. Bonekmania, mari tinggalkan kekerasan menuju persaudaraan.


Dua Bonek membentangkan spanduk sebelum menempelkannya di dinding stadion Maguwoharjo, Sleman (20/3).
Pemain Persebaya menggempur pertahanan Real Mataram.

Bonekmania menguasai separuh stadion Maguwoharjo yang berkapasitas 40.000 penonton.
 Selalu bernyanyi dan menari demi kemenangan Persebaya 1927
Laga sore itu berkesudahan 2-6 untuk kemenangan Persebaya 1927.
Bonekmania tak mengenal usia.
Panggil aku Bonekmania.
Meninggalkan kekerasan menuju persaudaraan.
Selama sinyal wani tetap menjadi lecutan di hati, selama itu pula Bonek takkan mati.
Baca Selengkapnya...

Rabu, 16 Maret 2011

Kampanye Pemilukada Sragen yang Tidak Bertoleransi

          Sragen memanas. Panasnya bukan karena musim kemarau, melainkan karena pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) Sragen 2011. Situasi kabupaten yang berada sekitar 30 km sebelah timur Kota Surakarta memang sedang tidak kondusif seperti biasanya. Hingar-bingar pemilukada terlihat jelas di seluruh pelosok kabupaten dengan kepadatan penduduk 909 jiwa/km² ini.

Siapapun di antara mereka yang naik tahta, wajib melunasi hutang-janji pada rakyatnya.
          Seminggu yang lalu, ketika aku pulang. Aku melihat keanehan demokrasi di kota kelahiranku itu. Sebentar, aku lupa tanggalnya. Tapi yang jelas hari itu adalah hari libur nasional, hari raya nyepi tahun baru Saka 1933 tepatnya. Nach, pada saat itulah keanehan itu muncul. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, iring-iringan kendaraan bermotor dengan pakaian serba kuning melambaikan tangannya. Lambaian yang akhirnya ku ketahui mengisyaratkan angka 5 (lima), dapat anda bayangkan sendiri lambaian itu.

          Ketika toleransi diabaikan, bangsa plural akan kehilangan panjinya. Dahulu sewaktu sekolah dasar (SD) diajarkan tentang tri kerukunan umat beragama dan toleransi, tragisnya saat melihat kekuasaan pelajaran itu seakan sirna. Ingat, minoritas bukan berarti tak ada dan jangan pernah dianggap tiada.

          Owh, betapa pilunya pemilukada ini? Hari yang seharusnya difungsikan untuk memberi ruang beribadah bagi umat beragama lain harus tercoreng oleh kejadian itu. Aku menghujat manusia penuh lambaian yang serasa tak berdosa itu, jangankan ketika beribadah? Saat bekerja-pun pasti akan merasa terganggu dengan raungan knalpot motor dan dentuman soundsystem. Sekarang hujatanku tak lagi tertuju pada manusia dengan jersey tertentu lagi. Tapi, pada aparat yang berwenang, hati ini menggugat.

          Bagaimana tidak? Mengacu dengan Peraturan KPU No14/2010, masing-masing peserta Pilkada wajib memberitahukan agenda kampanye mereka dan izin kepolisian kepada Panwaskab. Hal ini dimaksudkan agar pelaksanaan kampanye bisa terpantau serta mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan yang mungkin terjadi selama kampanye.

          Sepertinya aparat tidak pernah mau belajar tentang keberagaman bangsa Indonesia, keberagaman yang bisa menyulut konflik berkepanjangan. Isu SARA yang selalu memicu gejolak sosial hanya seperti angin lalu. Ketika semua ini dipelihara, bukan tidak mungkin suatu saat nanti kita dan bangsa Indonesia menerima akibatnya. Layaknya bom waktu, dimana dan kapan saja bisa diledakkan.

          Bagiku toleransi bukan hanya tanggungjawab negara, tapi juga internal pemeluk agama dan antar kerukunan umat beragama secara eksternal. Dengan demikian kebebasan beragama dan berkeyakinan akan lebih terjamin di negeri yang plural ini.
Baca Selengkapnya...