Minggu, 27 Maret 2011

Manusia Penyembah Benda

            Keris, senjata tikam tradisional yang beralih fungsi menjadi sarana budaya di kawasan Nusantara, khususnya bagian tengah dan timur (Jawa). Bagiku keris Jawa berbeda dengan senjata tajam lainnya. Cukup sulit untuk membedakan antara yang satu dengan lainnya, tapi setidak-tidaknya unsur keris Jawa bisa dijadikan alasan tentang berbagai pertanyaaan-pertanyaan di luar sana.

         Bentuknya khas, tiada dua di dunia. Terdiri dari berbagai bagian: bilah, gagang, dan sarung atau pembungkus. Bilah (wilah:Jawa atau daun keris) dibuat berkelok-kelok, berkeloknya bilah dipercaya untuk meminimalkan penderitaaan sang tertikam. Ini menandakan bahwa orang Jawa begitu lembut, sekalipun dalam peperangan.

            Bilah tak dapat berdiri sendiri tanpa adanya penopang, atau gagang keris, dan juga sering disebut hulu keris. Keris yang menawan tak bisa dipisahkan dengan nilai estetika, karena itulah ukiran indah selalu menghiasi gagang keris. Salah satu ciri peradaban seni Jawa, terlepas semua itu terdapat campur tangan budaya asing atau tidak.

Ilustrasi Keris
        Keris sebagai senjata dan alat upacara dilindungi oleh sarung keris  (warangka:Jawa). Sebagai pertanda ketidak-seronokan masyarakat Jawa, sebuah keris-pun harus dibungkus sedemikian rupa. Kesan menyeramkan dan tak elok (saru:Jawa) pada senjata tajam akan luntur, ketika keris berada dalam sarung yang berukir indah dan dilengkapi padanan warna yang tepat. Hanya keindahan yang tersisa.

            Masyarakat jawa memang tak bisa dipisahkan dengan mitos, begitupun juga dalam pembuatan keris. Konon masyarakat Jawa percaya pembuatan keris sebagai senjata tajam membutuhkan berbagai syarat yang pelik, diantaranya prihatin. Prihatin dalam Jawa biasa diartikan perih yang hanya disimpan dan dirasakan di dalam batin. Bentuknya bermacam-macam -puasa, bertapa, atau hanya sekedar membakar dupa-. Ini memang mitos, suatu keseimbangan yang rawan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat.

            Setelah bagian-bagian serta berbagai hal yang bersyarat menjadi satu kesatuan dengan nama keris. Dari situlah keris sering dipercaya memiliki kekuatan gaib. Tidak sedikit yang menilai kekuatan gaib berada di luar ranah kelogikaan manusia. Memang benar, tetapi aku-pun juga berhak beranggapan jika kelogikaan manusia itu ada batasnya.

            Banyak kalangan yang selalu menertawakan, mencibir, bahkan menyalahkan mitos Jawa, tapi siapa yang berhak menyebut kepercayaan orang lain itu takhayul? Bagiku sah-sah saja ketika kita beranggapan diri sendiri benar, tapi bukan paling benar, dan yang terpenting tidak menilai orang lain salah.

           Ketika anda beranggapan jika tulisan di atas hanya imajinasi penulis, itu benar. Tapi ketika anda menilai tulisan itu salah, sepertinya anda harus membuat tulisan tandingan sebagai pencerahan, untuk mencari sesuatu yang hilang dalam mimpi yang sempurna. Sekian dan terima kasih.         
Baca Selengkapnya...

Rabu, 23 Maret 2011

Bonekmania, Mari Tinggalkan Kekerasan Menuju Persaudaraan

         Mendung yang menyelimuti langit Kota Sleman sore itu (20/3) tak sedikitpun menyurutkan nyali ribuan Bonekmania. Kelompok suporter asal Surabaya ini memang tergolong pendukung fanatik klub Persebaya 1927 yang berlaga di Liga Primer Indonesia (LPI). Apapun akan mereka lakukan untuk Persebaya 1927. Termasuk datang ke Yogyakarta yang hanya berbekal dengan keberanian, atas dasar itulah tak ayal mereka menamakan dirinya sebagai Bondo Nekat (bermodal nekat). 


          Keberadaan Bonekmania dinilai meresahkan kenyamanan publik, karena terkadang ulah para Bonek sudah tidak dapat ditolerir oleh masyarakat. Bagiku kelakuan menyimpang Bonek tak terlepas dari provokasi oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Saat mereka bergabung menjadi satu dalam lautan massa dan menamakan dirinya sebagai Bonekmania, saat itulah mereka sangat rentan dengan provokasi-provokasi yang menyesatkan.

          Bonek memang anarkis. Tapi di balik anarkismenya terdapat rasa kekeluargaan yang begitu kuat. Militansi Bonek untuk mendukung Persebaya tak perlu diragukan lagi. Selama sinyal wani tetap menjadi lecutan di hati. Selama salam satu nyali tetap terucap dari satu Bonek dengan Bonek, serta kelompok suporter lainnya. Selama itu pula Bonekmania akan tetap eksis. Bonekmania, mari tinggalkan kekerasan menuju persaudaraan.


Dua Bonek membentangkan spanduk sebelum menempelkannya di dinding stadion Maguwoharjo, Sleman (20/3).
Pemain Persebaya menggempur pertahanan Real Mataram.

Bonekmania menguasai separuh stadion Maguwoharjo yang berkapasitas 40.000 penonton.
 Selalu bernyanyi dan menari demi kemenangan Persebaya 1927
Laga sore itu berkesudahan 2-6 untuk kemenangan Persebaya 1927.
Bonekmania tak mengenal usia.
Panggil aku Bonekmania.
Meninggalkan kekerasan menuju persaudaraan.
Selama sinyal wani tetap menjadi lecutan di hati, selama itu pula Bonek takkan mati.
Baca Selengkapnya...

Rabu, 16 Maret 2011

Kampanye Pemilukada Sragen yang Tidak Bertoleransi

          Sragen memanas. Panasnya bukan karena musim kemarau, melainkan karena pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) Sragen 2011. Situasi kabupaten yang berada sekitar 30 km sebelah timur Kota Surakarta memang sedang tidak kondusif seperti biasanya. Hingar-bingar pemilukada terlihat jelas di seluruh pelosok kabupaten dengan kepadatan penduduk 909 jiwa/km² ini.

Siapapun di antara mereka yang naik tahta, wajib melunasi hutang-janji pada rakyatnya.
          Seminggu yang lalu, ketika aku pulang. Aku melihat keanehan demokrasi di kota kelahiranku itu. Sebentar, aku lupa tanggalnya. Tapi yang jelas hari itu adalah hari libur nasional, hari raya nyepi tahun baru Saka 1933 tepatnya. Nach, pada saat itulah keanehan itu muncul. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, iring-iringan kendaraan bermotor dengan pakaian serba kuning melambaikan tangannya. Lambaian yang akhirnya ku ketahui mengisyaratkan angka 5 (lima), dapat anda bayangkan sendiri lambaian itu.

          Ketika toleransi diabaikan, bangsa plural akan kehilangan panjinya. Dahulu sewaktu sekolah dasar (SD) diajarkan tentang tri kerukunan umat beragama dan toleransi, tragisnya saat melihat kekuasaan pelajaran itu seakan sirna. Ingat, minoritas bukan berarti tak ada dan jangan pernah dianggap tiada.

          Owh, betapa pilunya pemilukada ini? Hari yang seharusnya difungsikan untuk memberi ruang beribadah bagi umat beragama lain harus tercoreng oleh kejadian itu. Aku menghujat manusia penuh lambaian yang serasa tak berdosa itu, jangankan ketika beribadah? Saat bekerja-pun pasti akan merasa terganggu dengan raungan knalpot motor dan dentuman soundsystem. Sekarang hujatanku tak lagi tertuju pada manusia dengan jersey tertentu lagi. Tapi, pada aparat yang berwenang, hati ini menggugat.

          Bagaimana tidak? Mengacu dengan Peraturan KPU No14/2010, masing-masing peserta Pilkada wajib memberitahukan agenda kampanye mereka dan izin kepolisian kepada Panwaskab. Hal ini dimaksudkan agar pelaksanaan kampanye bisa terpantau serta mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan yang mungkin terjadi selama kampanye.

          Sepertinya aparat tidak pernah mau belajar tentang keberagaman bangsa Indonesia, keberagaman yang bisa menyulut konflik berkepanjangan. Isu SARA yang selalu memicu gejolak sosial hanya seperti angin lalu. Ketika semua ini dipelihara, bukan tidak mungkin suatu saat nanti kita dan bangsa Indonesia menerima akibatnya. Layaknya bom waktu, dimana dan kapan saja bisa diledakkan.

          Bagiku toleransi bukan hanya tanggungjawab negara, tapi juga internal pemeluk agama dan antar kerukunan umat beragama secara eksternal. Dengan demikian kebebasan beragama dan berkeyakinan akan lebih terjamin di negeri yang plural ini.
Baca Selengkapnya...

Selasa, 22 Februari 2011

Pengamen Berjilbab Merah itu Seorang Guru

          Angkringan depan kampus menjadi tujuan kami setelah sedikit perdebatan di dalam ruangan tadi. Seperti biasa, segelas es coffemix aku pesan. Dengan sengaja tanganku bergerak cepat mengambil sepotong mendoan, tempe berjaket tepung. Seketika mendoan itu telah habis sebelum es coffemix selesai dibuat, habisnya-pun secepat aku mengambil dari tempatnya tadi.

          Setelah sejenak menunggu, pesanan itu datang juga. Dengan bantuan sedotan limun akhirnya minuman berwarna coklat muda itu meluncur deras menuju kerongkonganku. Karena tak terlalu menahan dahaga, rasa-rasanya enggan untuk menghabiskan segelas es coffemix itu.

Ilustrasi
          Aku arahkan pandangan kosong menuju riuhnya jalanan depan kampus. Jl. Taman Siswa dengan nomor 158 sore ini nampak megah, semoga saja isinya semegah bangunannya. Dalam lamunanku terdengar suara tamborin dengan nyanyian yang tak begitu jelas, sempat aku mengira itu hanya halusinasi semata. Setelah tersadar dari lamunan, ternyata memang ada seorang ibu melantunkan sebuah lagu lengkap dengan tamborin seperti lamunanku tadi.

          “Astaga. Ibu itu seorang pengamen?” batinku dengan sedikit keraguan dan penuh tanda tanya. Aku mesangsikan profesinya, karena jika sekilas melihat dari penampilan, jelas ia seorang terpelajar. Pakaian yang dipakai serba bersih. Jauh dari unsur pengamen, apalagi pengemis. “Saya guru dari Tulungagung mas, kalau ndak terpaksa juga ndak begini,” kurang lebih begitu ucapnya setelah bernyanyi di depan kami.

          Aigh, ibu pengamen berjilbab merah itu seorang guru. Lebih jelas lagi saat bercakap-cakap dengan salah seorang temanku, saling sapa tepatnya, yang kebetulan pernah berbincang-bincang di alun-alun utara beberapa waktu yang lalu. Setelah si ibu pergi, aku mencoba menggali informasi dari temanku. Tapi sayang, temanku juga tak terlalu ingat keseluruhan perbincangannya dulu. Yang teringat oleh temanku hanyalah ibu yang sudah tak bisa dikatakan muda lagi itu berasal dari Tulungagung. Entah karena ditipu atau apa, yang jelas ia seorang guru, atau mantan guru. Aku tak dapat banyak informasi malam itu. Mungkin jika suatu saat nanti bertemu lagi, akan ku kabarkan berita pada semua lengkap dengan informasinya.

          Sayang, aku juga tak sempat menanyakan namanya. Tapi inilah realita yang terjadi di Negeri kita, yang mereka bilang negeri besar karena menghargai jasa pahlawannya. Eitz, apakah kata “menghargai” itu ditujukan kepada pahlawan yang bertanda jasa saja? Yang kabarnya oknum-oknumnya sering melanggar hak-hak manusia itu. Sedangkan yang tak bertanda jasa diacuhkan, miris sekali jika prasangka ini benar. Umie Bakrie oh Umie Bakrie.          
Baca Selengkapnya...

Minggu, 13 Februari 2011

Nama Ayahku jadi Nama Panggilanku

            Simon. Mereka sering memanggilku dengan nama itu, tak kenal kampus ataupun jalanan, entah itu kawan kuliah ataupun kawan sekolah dahulu. Sudah sejak duduk di sekolah menegah pertama aku disapa demikian. Awalnya memang tak terima saat pertama kali mereka memanggil aku dengan nama itu. Bagaimana tidak? Itu nama ayahku.

            Upz. Aku masih ingat betul ketika sekolah menengah pertama dulu, jika tak salah waktu itu saat sedang berlangsung kegiatan ekstrakulikuler Pramuka. Kegiatan rutin setiap Jum’at sore. Seseorang dengan perawakan kurus, sepertinya hanya tersisa tulang dibalik kulitnya yang hitam. Tanpa daging, andai-pun ada dagingnya mungkin tidak banyak. Rambut lurus belahan tengah yang dimilikinya selaras dengan bentuk wajahnya yang bulat sedikit oval. Yosef Atmaja namanya, dengan catatan jika nama itu belum diganti. “ Omahmu mbi omahe Simon ngendine (rumahmu dengan rumahnya Simon mananya)?”, teriak Yosef tiba-tiba. Pada saat itu juga ku jawab dengan lirih bahwa kami tinggal serumah, karena beliau ayahku. Tak tahu dari siapa ia mendapatkan nama ayahku, tapi yang jelas setelah mendengar jawabanku kemudian ia mengejek dan memanggilku dengan nama ayahku. Aku memperingatkannya, tapi semakin ditanggapi, perkataannya justru semakin menjadi-jadi. Setelah kejadian itu, hampir semua temanku seangkatan memanggilku dengan nama ayahku.

            Masa-masa itu memang sedang ngetrendnya lelucon panggilan nama ayah. Aku sempat tersinggung, tapi lama-kelamaan aku jadi terbiasa dengan sapaan baru itu. Karena bukan hanya aku, hampir semua teman seangkatan juga mengalami hal yang sama denganku. Semenjak lulus dari tingkat menengah pertama, kulanjutkan sekolahku menuju tingkat menengah atas. Mungkin karena masih berada dalam satu kota yang sama, tak ayal teman seangkatan-pun juga masih banyak yang sama. Mudah untuk ditebak, jadi nama ayah yang telah melekat dalam diriku itu tak dapat ditawar lagi, namun setidaknya aku mulai nyaman dengan panggilan itu. Ya nyaman, karena aku mulai menyadari arti penting dari seorang ayah dalam keluargaku.

            Perjuangan ayah selalu membuat aku takjub, membuatku merasa sangat kecil dihadapannya. Seakan aku tak berarti dan tak punya arti, dibandingkan dengan semangatnya dalam berkarya. Perasan keringatnya hanya untuk membahagiakan ibu, aku, dan adikku. Aku kan selalu berdoa, semoga kita semua diberikan umur panjang. Dan selamanya kita bersama, dalam suka maupun duka. Aku percaya, ucapan adalah doa. Ayah, jangan pernah lelah untuk membimbing kami menuju sesuatu yang mulia.

            Kurang-lebih tujuh tahun sudah petama kali namamu menjadi panggilan bagiku, sampai aku menginjak pada perguruan tinggi namamu tetap melekat dalam diriku. Kini aku bangga dengan nama itu, nama ayahku, lelaki kebanggaanku. Mulai dari sekarang, jangan pernah menciutkan hatimu jika orang lain memanggilmu dengan nama ayahmu. Karena tanpa nafkah seorang ayah, ibu cukup kesulitan merawat kalian semua. Sejauh semua baik, semuanya akan baik-baik saja.
Baca Selengkapnya...

Sabtu, 29 Januari 2011

Susahnya jadi Biduan

            Kendaraan yang dikemudikan mulai berjalan pelan. Tanpa ada komando atau perintah, kepalanya ditolehkan 90 derajat ke arah kanan, arah utara. Kejadian seperti itu bukan sekali, juga bukan hanya dua kali, tiga kalipun sepertinya juga masih kurang. Nampaknya ada tontonan spesial siang ini (28/01), sehingga para sopir yang lewat selalu memandang. Pandangan itu bukan pandangan biasa, seperti pandangan birahi yang menyala dalam segunung jerami kering.

            Bukan tanpa alasan untuk memandang, sebuah hiburan tersaji dalam hajatan yang kebetulan letak rumahnya berada di pinggir jalan lingkar. Hanya tinggal menolehkan kepala campursari “Degleng Nada” dengan enam penyanyi telah siap menghibur para tamu undangan, sekaligus sopir yang lewat.

            Bodinya seksi, suaranya kecil dan lantang. Ketika cemberut-pun manis, apalagi ketika senyum. Istimewa. Berkat goyangannya yang panas menggoda, seluruh pasang mata undangan tak lepas dari wajah dan tubuhnya. Kalau Aku tak salah dengar, Ayu Farida biduan itu dipanggil oleh MC. Ketika pertunjukan campursari menjelang sore, biduan itu semakin cemberut. Tempat duduknya harus bergeser mendekati para peminum alkohol, demi memuaskan hasrat yang menginginkannya. Alhasil goyangannya sudah tak menggoda seperti tadi lagi. Kini di bawah kepungan pemabuk yang berjoget biduan itu sepertinya mulai merasa tak nyaman, sebentar-sebentar memberi kode pada MC mengeneai keresahannya itu. Bahkan seseorang dengan sengaja mendekati dan meminta nomor telepon genggam biduan itu ketika sedang istirahat. Aku menduga-duga apa yang dilakukan setelah tahu nomor telepon genggamnya. Hanya pesan singkat, sekedar telepon, atau mungkin yang lainnya. Aigh, untuk apa juga aku menduga-duga? Hanya membuang waktu untuk berpikir urusan yang seharusnya tak menjadi urusanku, juga tiada hak bagiku mencampuri urusan itu.

Tiga dari enam penyanyi yang menghibur tamu undangan siang itu
            Aku melihat hal ini secara langsung beberapa meter dari lokasi itu. “Njogeto, njogeto seng hot, tak sawer ngko (goyang, goyang yang hot, nanti disawer),” ungkap salah seorang pria setelah menuang alkohol dalam gelas lalu meminumnya. Aku juga terlena dalam nuansa campursari ini, seakan memandang rendah biduan-biduan di depan seperti orang yang baru saja berucap tadi. Tapi perasaan itu segera kubuang jauh-jauh dari pikiranku. Jean Marais seorang tokoh pelukis dari buku Bumi Manusia karya Pramodya Ananta Toer pernah berkata kepada Minke. Jika, terpelajar itu sudah harus adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan. Aku takkan menghakimi biduan itu dengan pikiranku sendiri. Kalaupun justifikasi dari pikiranku benar, apa pentingnya buatku? Serupiah-pun tidak bakal keluar dari dompetku.

            Belum tentu semua biduan seperti yang orang lain bayangkan, belum tentu biduan selalu rendah morilnya. “Mengurus moral sendiri saja aku belum becus, mengapa sudah mengurus moral orang lain?,” ungkapku dalam hati.

            Aku tak menyalahkan sopir-sopir yang menoleh, juga tak menganggap salah para penikmat alkohol dan pejoget. Merasa benar akan sikapku sendiri-pun tak bermaksud demikian, hanya sebuah dukungan untuk para biduan. Tak semua biduan itu sama seperti yang kebanyakan orang pikirkan, jika bisa memilih? Mungkin mereka tak memilih pekerjaan ini. Menghargai seni daerah dan para penggiat seni daerah merupakan tugas kita bersama, jangan lukai seni itu dengan ego kita sendiri. Ingat, kebudayaan nasional bersumber dari kebudayaan daerah.
Baca Selengkapnya...

Selasa, 25 Januari 2011

Berteduh di Angkringan

          Key-in atau yang lebih dikenal dengan nama KRS-an tadi (24/01/2011) memang berjalan cukup sukses, seluruh mata kuliah yang dipilih berhasil diambil. Dengan selesainya key-in, maka sudah menjadi suatu kewajiban untuk segera pulang menuju kampung halaman.


          Perjalanan pulang bukan tanpa halangan. Angkringan (warung kopi) yang terletak di pinggir jalan raya Yogya-Solo ini sudah menjadi tempat ketiga untuk sekedar berteduh. Memang hujan turun tak terlalu deras, bisa dibilang hanya gerimis, tapi gerimis itu cukup membuat kami berdua basah kuyup jika tetap nekat melanjutkan perjalanan. Mengingat masih ada jarak 80 kilometer lagi untuk sampai tujuan.

          “Monggo mas, pinarak mlebet (mari mas, silahkan masuk),” sambut pemilik warung berambut gondrong sibak tengah itu. Kedua matanya yang bulat memandangi kami dengan senyuman lebar pada bibir tebalnya, kuperhatikan posisi gigi bawah lebih maju dari gigi atas. Dari wajahnya dapat kutaksir belum sampai 30 tahun usianya, masih muda.
           “Nggih mas, ada kopi mas,” kataku.
           “Kopi item ada, kopimix juga ada”
           “Kopi item satu, kopimix satu mas”
           “OK. Dari mana mau kemana mas?”
          “Dari Yogya mau ke Sragen, udane wes wet mau to mas (hujannya sudah sejak tadi mas)?”
          Ho’o mas, neng ora patik’o deres. Mau yo ono sopir ko Sragen mampir kene, lagi ae (iya mas, tapi tak lebat. Tadi juga ada sopir dari Sragen yang mampir ke sini, baru saja), ” jawab pedagang itu dengan sopan dan ramah.

          Sebungkus nasi dilengkapi satu tempe bengok dan satu tempe gembus menemani kopi hitam kental ini. Tak membutuhkan waktu lama untuk terlarut dalam sebuah obrolan, obrolan dengan segala tema. Hargai cabai yang melonjak akhir-akhir ini menjadi bahan dalam perbincangan di pinggir jalan Yogya-Solo, bersama pedagang angkringan. Awalnya aku bercerita bahwa cabai di daerahku sudah seperti barang mewah, persawahan dengan tanaman cabai selalu dijaga dengan ketat setiap malam. Bak para sipir yang menjaga para narapidana di penjara. Aigh, sipir-pun tak seketat ini. Hal ini semata-mata agar cabai tidak lenyap dicuri oleh orang lain. Ya, memang sejak harga cabai melambung tinggi banyak orang tak bertanggung jawab mencurinya. Apalagi kalau tak karena terpikat harganya, untuk urusan perut dan bawahnya. Santer terdengar seorang pencuri babak belur dihajar masa, setelah ketahuan mencuri cabai di daerahku.



          “Maling Lombok nek konangan terus ono barang buktine kon mangan lomboke seng dicolong kui wae mas, ngasi entek. Nek gak gelem lagi laporne Polisi, daripada do main hakim sendiri (pencuri cabai kalau ketahuan dan ada barang buktinya, cabai yang dicuri itu harus dihabiskan si pencuri. Kalau tak mau, baru lapokan ke Polisi, daripada main hakim sendiri,” celetuk pedagang itu menanggapi ceritaku tadi. Tak ayal tanggapan itu disambut gelak tawa dari kami bertiga. Pemikiran yang lumayan unik dari mas Dwi, ku ketahui namanya Dwi setelah berkenalan usai celetukan itu.
Sosok mas Dwi yang diharapkan anak dan istrinya sebagai tulang punggung keluarga.

          Bunyi air hujan yang turun di atas tenda oranye ini masih terdengar keras, itu tandanya hujan belum berhenti. Obrolan kami terus berlanjut. Mas Dwi mengeluh banyaknya saingan sekarang ini membuat dirinya harus bekerja lebih ulet lagi. Pria kelahiran Wonosari tahun 1983 ini sekarang telah beristri dan dikaruniai seorang anak. Untuk tetap bertahan di zaman sekarang, semua harus diperhitungkan.

          Mas Dwi tergolong pecandu berat rokok, dalam sehari ia bisa menghabiskan dua bungkus rokok "76". Ia tak pernah mencoba rokok mild, taksirannya sendiri jika merokok mild dalam sehari mungkin bisa mencapai empat bungkus. “Nek kepepet mas, nek kepepet aku lagi udud "BB" mas. Masalahe nggo biaya anak sekolah barang ok mas (Kalau terpaksa aku baru merokok BB mas, masalahnya untuk biaya uang sekolah anak juga),” terangnya. Dengan gerobak dan dagangannya ia mempunyai tanggungan yang besar untuk menghidupi keluarganya, agar kelak semua dapat tercapai seperti apa yang diharapkannya.

          Tempat berteduh ketiga kami ini mempunyai banyak pelajaran hidup. Setelah menghabiskan kopi, walau gerimis tetap kami paksakan untuk melanjutkan perjalanan. Dan akhirnya harus berteduh lagi, lima kali berteduh cukup membuat kami bosan. Perjalanan yang idealnya ditempuh dalam waktu dua jam, kini harus molor hingga enam jam.

           
Baca Selengkapnya...